January 30, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Jatiluwih antara Pertanian dan Pariwisata: Rancang PERDES untuk Cegah Alih Fungsi

LITERASIPOST.COM – TABANAN | Perhelatan berbagai festival dinilai memiliki andil untuk menarik kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Termasuk event yang baru saja diadakan, Subak Spirit Festival 2024 (Kick-off) yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan RI pada 9-10 November 2024. Festival ini tak semata-mata menyuguhkan hiburan kepada pengunjung atau wisatawan, tapi lebih pada tujuan untuk penguatan sistem dan pelestarian Subak dan sawah itu sendiri.

Jatiluwih telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sejak tahun 2012. Hamparan sawah dengan pola terasering dan sistem pengairan yang disebut Subak, merupakan warisan budaya masyarakat Bali yang patut dilestarikan. Hal ini menjadi daya pikat wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih.

Hamparan sawah dengan terasering di Jatiluwih. (Foto: Literasipost)

Digelarnya berbagai festival yang melibatkan masyarakat setempat, pun dipandang memberikan impact yang positif. “Saya contohkan Jatiluwih Festival yang rutin kita adakan, hampir 90 persen melibatkan masyarakat, kulinernya, penampilnya, kegiatan ini mampu memikat kedatangan wisatawan yang akhirnya berimbas positif bagi masyarakat kami. Jadi dampak ekonomi yang sangat dirasakan masyarakat,” ungkap Manajer DTW Jatiluwih, Ketut Purna alias Jon.

Pelaksanaan Subak Spirit Festival yang digagas oleh Kementerian, juga dinilai mampu memberikan imbas yang baik bagi sektor pariwisata di Jatiluwih. Pihaknya pun memberikan apresiasi serta memfasilitasi penyelenggaraan festival yang perdana ini.

“Festival ini merupakan program dari Kementerian Kebudayaan, hanya saja diadakan di wilayah desa kami, tentu kami sangat apresiasi, dan kegiatan ini juga melibatkan masyarakat kami, UMKM, seniman, serta mampu menjadi sarana promosi secara nasional bagi Jatiluwih. Selama dua hari pelaksanaan, banyak masyarakat dan wisatawan yang datang, mereka melihat bagaimana sejatinya aktivitas di sawah yang ditampilkan lewat kegiatan-kegiatan kreatif serta seni,” jelasnya.

BACA JUGA :  Terima Kunjungan Panglima TNI dan Menko Marves, The Nusa Dua Siap Jadi Tuan Rumah KTT G20

Ke depan, wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih tidak hanya melihat sawah belaka. Pihak manajemen sedang merancang ada semacam aktivitas nyata di sawah seperti membajak, menanam padi, bahkan hingga memanen. Disiapkan area khusus untuk padi dalam usia 1 bulan, 2 bulan, atau 3 bulan sehingga pengunjung bisa melihat semua itu dan memahami pekerjaan di sawah.

Perkembangan pariwisata di Jatiluwih sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Pemasukan dari tiket dan parkir digunakan kembali untuk kegiatan di masyarakat, seperti pembangunan dan pelaksanaan upacara keagamaan di desa, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan iuran.

Namun di balik itu, tak dipungkiri ada kekhawatiran terjadi alih fungsi lahan akibat perkembangan zaman dan kebutuhan pariwisata. Akankah Jatiluwih masih bertahan?

BACA JUGA :  Pascasarjana UNUD Dirikan Prodi Baru Pertama di Indonesia

“Tentu kami sangat khawatir, karena di mana ada gula di sana ada semut, itu sangat nyata, maka kami sedang menyusun Peraturan Desa (Perdes), yang melibatkan Pekaseh, Bendesa Adat dan Kepala Desa, untuk membuat aturan di sawah, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, dan kami juga akan melakukan pengembangan Jatiluwih dengan membuat Botanical Garden di area berbeda sehingga tidak fokus pada sawah,” pungkas Jon. (IGP)

Related Posts