Bersih-bersih Pantai Rutin, Langkah Konsisten Jaga Destinasi Tetap Bersih ◾️Badung Perlu Punya TPA Sendiri

LITERASIPOST.COM – LEGIAN | Kondisi Pantai Legian, Kabupaten Badung, mulai terlihat bersih. Sampah kiriman dari tengah laut yang biasanya menumpuk di tepi pantai berangsur-angsur berkurang. Namun demikian, musim angin barat (West Monsoon) belum berakhir sehingga masih ada kemungkinan sampah-sampah akan menepi kembali.
Tim WPN (Wayan Puspa Negara) bersama komunitas BumiKita secara konsisten, periodik dan berkelanjutan, menunjukkan aksi nyata melalui gerakan Beach Clean Up (bersih-bersih) di Pantai Legian setiap hari Jumat. Secara bergiliran para pelaku usaha dan stakeholder pariwisata di wilayah Kelurahan Legian yang jumlahnya 500-1.000 orang setiap kali kegiatan, diajak membersihkan area pantai.

Kegiatan rutin bersih-bersih di Pantai Legian oleh para pelaku usaha. (Foto: Literasipost)
“Kondisi ini merupakan fenomena musiman yang disebut West Monsoon atau perubahan arah angin dari timur ke barat yang membawa banyak sampah dari tengah laut. Sesuai pengamatan kami menggunakan helikopter ada jutaan ton sampah mengambang entah berasal dari mana. Akibat kencangnya tiupan angin maka pantai kita yang menghadap ke arah barat mulai dari Petitenget, Kuta, Legian, Seminyak hingga Kedonganan dan Jimbaran dipenuhi oleh sampah yang sebagian besar sampah plastik”, ujar Wayan Puspa Negara selaku inisiator gerakan Beach Clean Up, Jumat (7/2/2025).
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung ini menambahkan, bahwa fenomena ini datang setiap tahun dan belum ada pihak yang mampu untuk mengatasinya dengan baik. Tetapi, berkat kerja keras masyarakat, pedagang pantai, stakeholder, DLHK Kabupaten Badung yang selalu stand by setiap hari di pantai sehingga sampah bisa dibersihkan kendati membutuhkan waktu. Ke depan pihaknya berharap adanya teknologi yang lebih jitu untuk menanggulangi sampah kiriman di pantai. Pasalnya, rata-rata per hari mencapai 50-60 ton sampah menepi.
“Bulan Desember, Januari dan Februari pantai kita sangat kotor dan jorok. Bagi wisatawan yang pertama kali datang ke sini tentu akan syok dan heran kenapa kondisi Pantai Kuta, Seminyak dan Legian seperti ini padahal di Instagram terlihat bagus. Nanti memasuki bulan Maret kondisi pantai akan kembali bersih karena East Monsoon. Masyarakat Bali mempercayai sebagai Sasih Kedasa”, jelasnya.
Dikatakan, jika zaman dahulu sampah-sampah di pantai terutama yang organik berupa potongan kayu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kayu bakar atau untuk membakar genteng. Tapi kini tak ada lagi yang memanfaatkan sehingga harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kendalanya saat ini adalah TPA bersama di wilayah Suwung Denpasar sudah over capacity dan bahkan ditutup sehingga sampah menumpuk di perbatasan Kuta-Legian dan Legian- Seminyak.
“Kami berharap Kabupaten Badung harus memiliki TPA karena di TPS-3R yang ada masih ada residu 30 persen ditambah sampai pantai sehingga masih dibutuhkan TPA”, sebutnya.
Penanganan sampah musiman di pantai ini sejatinya membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Kata Puspa Negara, ada zona-zonanya dimana kawasan pesisir menjadi wilayah kabupaten/kota sedangkan 1 mil ke tengah laut merupakan kawasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pihaknya berharap kementerian bisa menjaring dahulu sampah di tengah laut sehingga sampah yang menepi akan lebih sedikit. Dibutuhkan teknologi yang kuat, good will dan political will dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder.
Sebagai masyarakat, pihaknya tidak tinggal diam. Yang pertama adalah membangkitkan habit masyarakat untuk senantiasa sadar bahwa sampah adalah sesuatu yang harus dikelola dengan manajemen yang baik dan bijaksana. Yang kedua, destinasi harus selalu bersih sebagai syarat utamanya. Yang ketiga tentu mengedukasi semua pihak termasuk wisatawan karena kegiatan bersih-bersih ini juga diikuti oleh wisatawan.
“Selain di pantai, mereka juga akan kami libatkan untuk membersihkan tukad mati bila West Monsoon berlalu. Kita membangun habit dan kebiasaan bahwa sampah harus diperlakukan sedemikian rupa agar tidak mencemari lingkungan. Konsepnya adalah ketika kita menjaga lingkungan maka lingkungan akan menjaga kita”, pungkas Puspa Negara. (LP)














