September 17, 2026
EKONOMI & PERBANKAN

DPK Melambat, OJK Yakinkan Kinerja Industri Perbankan di Bali Tetap Terjaga

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa industri perbankan di Provinsi Bali hingga Juli 2026 masih tumbuh positif, meskipun laju pertumbuhannya di bawah rata-rata nasional. Dimana secara nasional, aset perbankan tumbuh 11,73% sedangkan di lokasi bank hanya 4,73% dan di lokasi kantor pusat (Bank BPD dan BPR) tumbuh 4,86%.

Demikian halnya pada kredit, baik di lokasi bank maupun lokasi proyek tumbuh lebih tinggi dibandingkan posisi tahun lalu, yakni masing-masing 7,91% dan 10,03%.

BACA JUGA :  Satgas PASTI Bali Ingatkan Waspada Modus Penipuan Jelang Hari Raya

“Biasanya lokasi proyek memang lebih tinggi daripada lokasi bank, karena banyak ternyata bank di luar Bali yang memberikan pembiayaan atau kredit kepada proyek-proyek yang ada di Bali”, ujar Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, saat acara NGORTE with Media di Kantor OJK Provinsi Bali, Selasa (15/9).

Dijelaskan, penyaluran kredit oleh bank yang berkantor pusat di Bali mencapai 31% dari total kredit di Bali dengan pertumbuhan sebesar 6,91% (you).

Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami perlambatan pertumbuhan dari 9,42% menjadi 4,83% (you). Kondisi ini terutama diakibatkan oleh perlambatan pertumbuhan deposito.

“Jadi sebetulnya masih tumbuh tapi tumbuhnya melandai atau menurun, yang agak signifikan itu deposito dari 10 persen menjadi 0,38 persen dan tabungan dari 10,23 persen menjadi 4,48 persen, tapi ini terjadinya mayoritas di Himbara dan bank umum swasta nasional”, jelasnya.

BACA JUGA :  Dukung Pengelolaan Sampah di Bali, BRI Serahkan Bantuan Dump Truck kepada Kodam IX/Udayana

Fungsi intermediasi perbankan justru menunjukkan tren meningkat dari 57,31% menjadi 59%. Hal ini terjadi diperkirakan karena penurunan kredit lebih kecil dibandingkan DPK sehingga LDR meningkat. 

Untuk perbankan yang berkantor pusat di Bali (BPD dan BPR) memiliki LDR lebih tinggi dibandingkan Himbara dan bank swasta nasional, yakni sebesar 75,38%. Jika dilihat dari NPL berada pada level terjaga yaitu di bawah 5% yang artinya cenderung membaik atau menurun. 

Kredit berdasarkan jenis penggunaannya didominasi oleh kredit investasi dengan porsi 37,01%. Angka ini tumbuh signifikan dari sebelumnya 13,61% menjadi 23,25% (you). Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor Akmamin (Akomodasi dan Makan Minum). Kredit modal kerja justru sejalan dengan nasional yang mengalami kontraksi sebesar -2,67% (you) terutama akibat penurunan pada sektor perdagangan. 

Penyaluran kredit di Bali dimana sektor Akmamin, Pertanian dan Jasa Kemasyarakatan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan Juli tahun lalu. Kemudian kredit Perdagangan dan Lapangan Usaha cenderung melandai. “Hal ini mengindikasikan ada perubahan porsi kredit ke sektor riil yang lebih produktif”, ungkap Parjiman.

BACA JUGA :  BI Bali Bersama Bapanas dan Pemprov Bali Adakan Pasar Murah Pakai QRIS

Kredit UMKM di Bali mencapai 50,47% dari total kredit yang ada di Bali. Pertumbuhannya sebesar 6,41% lebih tinggi bandingkan dengan posisi Juli 2025 yang hanya 3,15%. Berdasarkan skemanya, didominasi untuk kredit usaha mikro sebesar 41,78%, kemudian usaha kecil 38,60% dan untuk usaha menengah sebesar 19,62%. 

Turut hadir Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali, Irhamsah; Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Bali, Adityo Pamudji; Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Provinsi Bali, Novi Susilowati; Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 2 OJK Provinsi Bali, Zulkifli; dan Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 4 OJK Provinsi Bali, Mangisi Daony R. Sinaga. (L’Post)

Related Posts