Atasi Permasalahan, BPR Kanti Ajak BPR Lain Kerja Sama dengan Jaringan BPR Nusantara

LITERASIPOST.COM – GIANYAR | BPR Kanti bekerja sama Infobank menyelenggarakan talkshow dengan topik “Teknologi dan Ekosistem untuk Perbankan yang Berdaya Saing” bertempat di Pusdiklat BPR Kanti, Rabu (27/8). Kegiatan ini menghadirkan pembicara, di antaranya YB Handaru Purnasakti, S.T., CFE (Deputi Direktur OJK Provinsi Bali), Dr. Roberto Akyuwen, STP, SE, MST (penulis buku), Riza Kristanto (CCO PT CLIK), dan Apriyani Kurniasih (Direktur Infobank Digital).
Direktur Utama BPR Kanti, Made Arya Amitaba menyampaikan bahwa bermula dari peran BPR Kanti melaksanakan fungsi-fungsi Apex Bank antara lain memberikan bantuan modal kerja kepada BPR maupun koperasi, membantu mengatasi kesulitan likuiditas, membuatkan produk bersama yaitu Tabungan ArisanKu dengan hadiah mobil yang diikuti oleh 105 BPR di Indonesia, dan meningkatkan capacity building. Pelaksanaan fungsi Apex Bank ini sebagai solusi terhadap krisis pandemi COVID di tahun 2020.
Lalu, saat ini telah terbentuk Jaringan BPR Nusantara (JBPRN) dengan harapan berbagai persoalan yang dihadapi oleh BPR dalam ruang lingkup pelaksanaan Apex Bank bisa dilaksanakan oleh JBPRN. Kehadiran JBPRN ibarat “one solution for BBR”, yakni segala persoalan di BPR dapat dibantu seperti adanya funding pendanaan, NPL yang cukup tinggi, produk yang terbatas, SDM yang kurang memadai, teknologi informasi, dan lainnya.
“Harapan kami dengan kelahiran JBPRN, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh BPR dapat diatasi”, ujar Amitaba.
Dikatakan, BPR Kanti mengawali kerja sama dengan JBPRN. Ke depan diharapkan BPR-BPR lainnya turut melakukan hal yang sama untuk penguatan BPR masing-masing baik dari sisi pemenuhan pendanaan, mengatasi berbagai persoalan peningkatan teknologi digitalisasi perbankan, layanan digitalisasi maupun lainnya.
YB Handaru Purnasakti dari OJK Bali, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi oleh BPR Kanti ini. “Forum ini sangat menginspirasi agar BPR bisa lebih peka dan punya literasi digital yang lebih baik, sehingga nantinya kami juga berharap ada peningkatan dari aspek manajemen risiko, permodalan maupun tata kelola”, ungkapnya.
Pada kesempatan ini juga dilakukan peluncuran buku berjudul “Teknologi Pengaturan dan Pengawasan Perbankan – Regtech & Suptech”. Buku ini merupakan karya Dr. Roberto Akyuwen, STP, SE, MST yang tak lain adalah Kepala OJK KR 01 Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi.
Secara garis besar, buku ini berisi tentang meningkatnya adopsi teknologi telah mengubah lanskap keuangan global, serta meningkatkan peluang dan tantangan bagi otoritas dan bank. Salah satu bidang inovasi yang penting adalah penerapan fintech oleh lembaga yang diatur (regtech) untuk persyaratan peraturan dan kepatuhan serta pelaporan; dan penerapan fintech oleh otoritas untuk tujuan pengaturan dan pengawasan (suptech).

Buku “Teknologi Pengaturan dan Pengawasan Perbankan – Regtech & Suptech” karya Dr. Roberto Akyuwen, STP, SE, MST. (Foto: Literasipost)
Regtech dan suptech dapat menyebabkan perubahan paradigma besar yang relevan bagi otoritas jasa keuangan di negara-negara maju dan berkembang. Regtech dan suptech dapat merevolusi kerangka peraturan dan pengawasan. Solusi regtech/suptech dapat mendorong inklusi keuangan dan mengurangi hambatan masuk, membantu tujuan kebijakan, serta meningkatkan persaingan dan pertumbuhan di pasar keuangan.
“Saat ini beliau meluncurkan bukunya sendiri di Pusdiklat BPR Kanti dan berikutnya akan menerbitkan buku perjalanan BPR Kanti 36 tahun pasca Pakto 88”, tutup Amitaba. (L’Post)














