January 30, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Bali Bird Park Berhasil Kembangbiakkan Atat Bali, Siap Dilepasliarkan di Hutan Batukaru

LITERASIPOST.COM – Gianyar | Bali Bird Park menjalankan program konservasi “The Homecoming of Atat Bali, Mitchell’s Lorikeet (Trichoglossus forsteni mitchellii)”, atau yang juga dikenal sebagai Perkici Dada Merah. Keberhasilan penetasan anakan pertama ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang upaya konservasi spesies endemik Bali yang sempat dinyatakan punah di alam liar.

Inisiatif ini juga merupakan bagian dari Fighting Extinction, salah satu program utama Bali Bird Park yang berfokus pada konservasi dan pelestarian spesies burung endemik serta terancam punah di Indonesia.

BACA JUGA :  HARRIS Hotel Sunset Road Bali Luncurkan “Sunset BBQ Night”

Program The Homecoming of Atat Bali merupakan inisiatif kolaboratif Bali Bird Park untuk memulangkan dan melestarikan kembali Atat Bali, jenis burung paruh bengkok berwarna cerah yang hidup di Bali dan Lombok. Jenis Perkici ini berperan penting sebagai penyerbuk alami berkat lidah bercabang khusus yang digunakan untuk mengkonsumsi nektar, serbuk sari, dan buah-buahan lunak, menjadikannya komponen penting dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Setelah terakhir kali tercatat di alam liar pada tahun 2019 (Prihatmoko et al., 2019), penurunan populasi dan hilangnya habitat mendorong dilakukannya aksi konservasi darurat. Menanggapi kondisi ini, Bali Bird Park memprakarsai proyek pemulangan Atat Bali dari Inggris, bekerja sama dengan Paradise Park UK, World Parrot Trust dan mendapat dukungan penuh dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali.

Program ini mengadaptasi pendekatan upaya konservasi berkelanjutan, dengan melibatkan proses karantina ketat, program pengembangbiakan terkontrol lintas generasi, dan rencana pelepasliaran bertahap untuk memastikan keberlangsungan populasi jangka panjang di habitat aslinya.

BACA JUGA :  LAM-PTKES Lakukan Monev Akreditasi Prodi Kedokteran Hewan FKH UNUD

Pada 18 Juli 2025, Bali Bird Park secara resmi menyambut kedatangan Atat Bali di fasilitas konservasi mereka di Gianyar. Kedatangan ini menjadi momen bersejarah bagi dunia konservasi Indonesia, menandai kembalinya spesies yang selama beberapa dekade absen dari alam liar Bali. Setibanya di Bali Bird Park, seluruh burung menjalani masa karantina wajib selama 14 hari di fasilitas karantina untuk memastikan kondisi kesehatan semua burung. Setelah dinyatakan sehat, burung-burung tersebut dipindahkan ke area penangkaran untuk memasuki tahap adaptasi dan perjodohan sebagai langkah awal program penangkaran.

Setelah dua bulan perawatan intensif dan enam minggu masa adaptasi di fasilitas penangkaran, Bali Bird Park dengan penuh sukacita menyambut generasi baru Atat Bali. Hingga saat ini, 5 pasang Atat Bali telah berhasil menetaskan 9 anakan sehat, sementara beberapa pasangan lainnya masih dalam proses pengeraman telur berikutnya. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim perawat satwa dan tenaga ahli Bali Bird Park yang dengan penuh kasih, kesabaran, dan ketelitian dalam menjalankan program pengembangbiakan terkontrol Atat Bali.

“Ini adalah suatu kebanggaan bagi kami, bahwa lembaga konservasi Bali Bird Park berhasil mengembalikan satwa endemik Bali ke tanah Bali, dan rencananya akan kita kembangbiakkan dulu di fasilitas breeding kami”, ungkap Pande Suastika selaku General Manager Bali Bird Park, Rabu (10/12).

Telur Atat Bali yang siap dierami. (Foto: ist/Literasipost)

Momen penting terjadi pada 26 September 2025, ketika Bali Bird Park menerima kunjungan kehormatan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG), Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), serta Kepala BKSDA Bali. Dalam kesempatan ini, para pejabat tersebut secara langsung meninjau kondisi fasilitas penangkaran, mengamati telur dan anakan, serta secara simbolis memberikan Sertifikat Penamaan bagi dua anakan pertama Atat Bali yang diberi nama “Selaras” dan “Lestari”, melambangkan harmoni dan kelestarian alam.

Selain itu, Bali Bird Park juga diundang dalam kegiatan yang diprakarsai oleh BKSDA Bali dalam agenda kunjungan dari Komisi IV DPR-RI yang juga dihadiri oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) beserta jajaran, serta Gubernur Bali. Dalam kegiatan tersebut Bali Bird Park mendapatkan apresiasi dalam upaya konservasi Atat Bali serta diberikan sertifikat penamaan dari Gubernur Bali, Wayan Koster dengan nama Kedis Atat Kerthi Bali dan dari Ketua Komisi IV DPR-RI, Siti Hediati Soeharto, S.E dengan nama Atat Amerta.

Bali Bird Park kini tengah mempersiapkan tahap berikutnya, yaitu rencana pelepasliaran Atat Bali di kawasan hutan Pura Luhur Batukau, Tabanan, yang diyakini sebagai salah satu habitat alami spesies ini. Langkah ini meliputi studi lapangan dan penilaian ekologi habitat, persiapan area soft release enclosure di Pura Luhur Batukau, serta monitoring perilaku dan adaptasi anakan sebelum dilepas ke alam.

BACA JUGA :  "Recovery Rate" Penumpang di AP1 Capai 91 Persen

“Setiap telur yang dierami dan setiap anakan yang menetas adalah simbol harapan baru bagi masa depan Atat Bali. Keberhasilan ini adalah bukti nyata dedikasi kami dalam konservasi berkelanjutan. Kami berterima kasih atas dukungan penuh pemerintah, masyarakat, dan seluruh tim Bali Bird Park yang luar biasa,” ujar Rosi dari AVIAN Bali Bird Park.

Keberhasilan ini menandai babak baru dalam upaya pelestarian burung endemik Bali dan menjadi inspirasi bagi kolaborasi konservasi antara pemerintah, masyarakat lokal, lembaga adat tradisional Bali, organisasi konservasi nasional dan internasional. Namun ini baru permulaan, kisah Atat Bali baru saja dimulai, dan perjalanannya menuju kebebasan di alam akan menjadi warisan penting bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. (L’Post)

Related Posts