November 2, 2026
BALI

Bali Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Ketangguhan Hadapi Risiko Iklim dan Bencana

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Di tengah meningkatnya frekuensi bencana dan dampak perubahan iklim, Bali semakin memperkuat pendekatan yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama ketangguhan daerah. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, komunitas, dan organisasi penyandang disabilitas kini memainkan peran yang semakin besar dalam upaya mengurangi risiko bencana dan melindungi masyarakat.

Komitmen tersebut menjadi benang merah dalam Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 Provinsi Bali yang diselenggarakan oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali bersama BPBD Provinsi Bali, dengan dukungan Program SIAP SIAGA, Kemitraan Australia–Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana.

BACA JUGA :  FISIP UNUD Gelar Pelepasan Sarjana dan Diploma Periode 40

Mengusung tema “Ngariksa Bumi Nusantara dalam Bali Era Baru: Hijau, Tangguh, dan Sejahtera”, peringatan ini mempertemukan berbagai pihak untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong aksi nyata menuju Bali yang lebih siap menghadapi risiko bencana maupun perubahan iklim.

Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Gerakan Menanam 1 Juta Pohon

Salah satu isu yang mengemuka adalah pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana. Ketua FPRB Provinsi Bali, Suta Wijaya, menegaskan bahwa degradasi lingkungan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko berbagai bencana.

“Banyak penelitian telah menyebutkan salah satu penyebab bencana karena adanya degradasi lingkungan. Jadi ketika kita menjaga alam lestari, tentu potensi bencana juga pasti menurun. Upaya ini kami implementasikan dalam Gerakan Bali Menanam,” ungkap Suta Wijaya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Gerakan Menanam 1 Juta Pohon, yang mengajak masyarakat berpartisipasi langsung menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Melalui aplikasi InaRISK Personal, pohon yang ditanam dapat didaftarkan dan dipantau pertumbuhannya sebagai bagian dari gerakan kolektif menghijaukan Bali.

BACA JUGA :  Dukung Event Musik di Bali, PLN Hadirkan Listrik Tanpa Kedip di Konser Dewa 19

Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Inklusivitas Menjadi Pilar Utama

 * Sektor Pendidikan: Sebanyak 15 perguruan tinggi swasta di Bali telah memenuhi sembilan indikator minimum sebagai Kampus Siaga Bencana (KSB), memperluas peran dunia akademik dalam membangun budaya sadar risiko.

 * Sektor Kesehatan: Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mendeklarasikan komitmennya mewujudkan fasilitas kesehatan yang aman, inklusif, dan tangguh terhadap bencana guna memastikan layanan darurat tetap berfungsi optimal.

 * Inklusivitas & Disabilitas: Melalui Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB), penyandang disabilitas ikut terlibat langsung dalam perencanaan dan pengembangan layanan.

“Pelayanan juga perlu berdasar pada kebutuhan. Dengan melibatkan teman-teman secara langsung sebagai pelaku dan perencana, kita benar-benar dapat memahami kebutuhan masing-masing. Inklusivitas dalam penanggulangan bencana bukan sistem yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan sistem karena semua orang berhak untuk selamat,” kata Elsye Suryawan, Ketua I ULD-PB Bali.

Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Masyarakat, Made Rentin, turut mengapresiasi sinergi yang terjalin erat antara pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media.

BACA JUGA :  PLN Bali Tebar Promo Tambah Daya di Tiga Kota

Senada dengan hal tersebut, Provincial Manager Program SIAP SIAGA Bali, Ikhyaul Ihsan, menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah kerja bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Apresiasi untuk Penggerak Ketangguhan Bali

Sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai inisiatif yang berkembang, BPBD Provinsi Bali memberikan penghargaan kepada individu, komunitas, lembaga, dan organisasi yang berkontribusi memperkuat kesiapsiagaan di Bali.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Teja Bhusana, menyatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas dedikasi berbagai pihak yang selama ini bekerja bersama membangun ketangguhan masyarakat.

Selain menjadi ruang apresiasi, Bulan PRB 2026 juga dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran lintas sektor terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Kampus Siaga Bencana, ketangguhan fasilitas kesehatan, pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, serta integrasi adaptasi perubahan iklim dalam pembangunan daerah.

Di tengah tantangan zaman, kolaborasi lintas sektor yang inklusif ini menjadi modal penting untuk melindungi masyarakat, menjaga keberlanjutan pembangunan, dan memperkuat ketahanan Bali di masa depan. (L’Post)

(Sumber: rilis BPBD)

Related Posts