January 30, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Festival Desa Penglipuran XII: Kukuhkan Bali sebagai Jantung Pariwisata Berkelanjutan

LITERASIPOST.COM – BANGLI | Dalam balutan tradisi yang kaya dan komitmen teguh terhadap keberlanjutan, Desa Penglipuran — sebuah permata budaya Bali yang telah diakui secara global, menyelenggarakan Festival Desa Penglipuran XII tahun 2025. Mengusung tema “Samskerti Bhumi Jana: Harmoni Menuju Pariwisata Berkelanjutan dan Inklusif”, festival ini berlangsung pada 10-12 Juli 2025, menjanjikan perayaan budaya yang mendalam, refleksi inspiratif, dan pengalaman tak terlupakan bagi setiap pengunjung.

Festival tahunan ini bukan sekadar ajang pameran seni dan budaya, tapi perwujudan nyata dari filosofi Tri Hita Karana — sebuah ajaran kuno Bali yang menganjurkan penciptaan harmoni antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Melalui tema tersebut diharapkan memperkuat kesadaran akan pentingnya harmoni esensial ini dalam rangka membangun pariwisata yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga adil dan merangkul secara sosial. Festival ini menjadi wadah untuk menampilkan berbagai seni budaya, edukasi, serta diskusi yang mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian desa adat dan menciptakan pariwisata yang ramah lingkungan serta merata manfaatnya bagi seluruh masyarakat.

BACA JUGA :  Sampaikan "Petisi 45", Komunitas Cinta Pertanian Indonesia Usulkan Bentuk Bank Petani

“Festival Desa Penglipuran adalah jantung dari identitas kami. Ini adalah bentuk syukur kami atas berkah yang diberikan, sekaligus ajakan tulus kepada dunia untuk bersama-sama melestarikan warisan leluhur kami demi generasi yang akan datang,” ujar Wayan Sumiarsa, Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, dengan nada penuh kebanggaan.

“Melalui setiap tarian, setiap alunan gamelan, dan setiap karya seni yang ditampilkan, kami berharap dapat menyebarkan pesan perdamaian, keharmonisan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan kepada setiap insan yang hadir. Dengan semangat harmoni, diharapkan Penglipuran Village Festival dapat menjadi model bagi pengembangan pariwisata di daerah lain, sekaligus memperkuat posisi Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata yang bertanggung jawab dan berwawasan masa depan”, sambungnya.

Hari pertama festival dibuka dengan semangat kebersamaan dan penghormatan. Pada pagi hari diadakan Lomba Gebogan di Pewaregan Pura Penataran, sebuah kompetisi yang menampilkan keindahan artistik dan filosofis dari persembahan buah dan bunga khas Bali yang disusun menjulang tinggi, melambangkan kemakmuran dan rasa syukur. Kemeriahan berlanjut dengan Opening Ceremony yang megah di Jaba Pura Penataran, sebuah seremoni pembukaan yang dimeriahkan pertunjukan tari Legong Mesatya, Tari Gabor kolosal, dan Parade Gebogan. 

BACA JUGA :  Festival Seni Bali Jani IV Siap Digelar di Taman Budaya

Kegiatan ini dihadiri oleh Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup, pejabat Provinsi Bali, pejabat Kabupaten Bangli serta melibatkan siswi SMP di Bangli sejumlah 100 orang, seniman lokal, desa tetangga, dan tentunya masyarakat setempat. Pada sore hari, perhatian akan beralih ke penilaian penjor di Tugu Pahlawan, dimana setiap penjor—tiang bambu melengkung yang dihiasi daun kelapa, janur, dan sesajen, dinilai berdasarkan keindahan dan makna spiritualnya, merefleksikan kreativitas masyarakat dalam menyambut Hari Raya Galungan. Puncaknya, malam hari ditutup dengan pengumuman juara penjor dan hiburan budaya Bali di Tugu Pahlawan, sebuah persembahan seni yang memukau penonton dengan keindahan tari dan musik tradisional Bali.

Hari kedua didedikasikan untuk menumbuhkan kreativitas dan semangat kebersamaan. Pagi hari diadakan Lomba Mewarnai di Tugu Pahlawan, sebuah kegiatan edukatif dan menyenangkan yang mengajak anak-anak untuk mengekspresikan imajinasi mereka, sekaligus memperkenalkan mereka pada kekayaan budaya Bali sejak dini. Selain itu, sepanjang kegiatan festival, akan terdapat berbagai seni pertunjukan budaya dan musik lokal Bali. Malam hari akan dipenuhi dengan hiburan budaya Bali lainnya, mempersembahkan kekayaan seni pertunjukan tradisional.

Festival akan mencapai puncaknya pada hari ketiga dengan serangkaian acara yang penuh energi dan makna. Sorotan utama adalah Lomba Tari Barong Macan di Pasar Pelipurlara, sebuah pertunjukan dinamis yang menampilkan salah satu tarian ikonik Bali, menggabungkan gerakan energik, kostum megah, dan narasi mitologis yang mendalam. Selain itu, Festival XII juga memfasilitasi para pelaku UMKM lokal Desa Penglipuran dan luar desa, baik itu berupa kuliner maupun kerajinan tangan. Ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dan menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk membawa pulang buah tangan autentik. Sebagai penutup yang berkesan, musik lokal akan menghibur pengunjung di Tugu Pahlawan, menciptakan suasana akrab dan ceria, merayakan keberagaman musik dan talenta seniman setempat.

BACA JUGA :  Mulai Akhir Maret 2024, Pemprov Bali Sidak Optimalisasi PWA

Festival ini bertujuan sebagai sarana promosi Desa Wisata Penglipuran, melestarikan seni budaya dan lingkungan, serta sebagai media rekreasi. Ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi kepariwisataan masyarakat dan sebagai bentuk syukur masyarakat Desa Penglipuran. Desa Wisata Penglipuran menerapkan sistem pariwisata berbasis masyarakat yang bertujuan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan dan pembagian manfaat pariwisata. Seiring perkembangannya, desa wisata ini terbukti mampu menciptakan lapangan pekerjaan, peluang usaha, dan martabat masyarakat terhadap desanya.

Pada tahun 2024, tercatat jumlah kunjungan sebanyak 1.023.750 orang (wisatawan domestik dan mancanegara), dengan rata-rata kunjungan wisatawan per hari sebanyak 2.652 orang. Citra atau branding sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia merupakan indikator yang menunjang popularitas sebagai daerah tujuan wisata. Pada tahun 2023, Desa Wisata Penglipuran meraih penghargaan sebagai One of The Best Tourism Villages in The World dari UNWTO (United National World Tourism Organization), yang diharapkan dapat mempertahankan eksistensi Penglipuran sebagai desa wisata. Promosi dan kolaborasi pentahelix juga merupakan strategi yang dilakukan secara berkelanjutan, dan salah satu implementasi strategi tersebut adalah penyelenggaraan festival ini setiap tahunnya.

“Kami mengundang seluruh wisatawan domestik dan internasional, serta seluruh lapisan masyarakat, untuk datang dan merasakan langsung pengalaman mendalam dalam harmoni Desa Penglipuran”, ajak Wayan Sumiarsa. “Mari kita bersama-sama menjadi bagian dari upaya pelestarian seni, budaya, dan lingkungan kami, sekaligus mendukung pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif yang akan menjadi warisan berharga bagi masa depan”.

BACA JUGA :  Pepito Market Dewi Sri Dibuka, Hadirkan Ready-to-Eat

Untuk diketahui, Desa Penglipuran: Terletak di Kabupaten Bangli, Bali, Desa Penglipuran adalah sebuah desa adat yang diakui secara global. Keunikan desa ini terletak pada tata ruangnya yang teratur, arsitektur tradisional yang terjaga otentisitasnya, dan lingkungan yang luar biasa bersih. Berbagai penghargaan nasional dan internasional telah diraihnya, termasuk predikat sebagai salah satu desa terbersih di dunia dan salah satu destinasi wisata terbaik. *Komitmen mendalam desa terhadap filosofi Tri Hita Karana tidak hanya membentuk lanskap fisik dan sosialnya, tetapi juga menjadikannya sebuah model keberlanjutan dan keharmonisan yang patut dicontoh. (L’Post/r)

Related Posts