Gema Perdamaian, Ekspresi Damai dari Bali untuk Dunia

LITERASIPOST.COM, DENPASAR | Peringatan Hari Perdamaian Dunia (International Peace Day) jatuh setiap tanggal 21 September. Perayaan ini telah diputuskan oleh PBB (United Nation) sejak tahun 2013. Salah satu Streering Committee Gema Perdamaian (GP), Ida Rsi Wisesanatha menjelaskan, tujuan perayaan Hari Perdamaian Dunia adalah untuk memberikan edukasi dan membangun kesadaran bahwa nasionalisme yang proporsional itu akan bisa terjadi kalau kita memiliki wawasan internasionalisme yang cukup.
Menurut Ida Rsi, wawasan internasionalisme itu perlu dibentuk sedemikian rupa untuk menyadari realitas bahwa kita hidup dalam satu Bumi, Udara dan Air yang sama. “Oleh karena itu perlu pemahaman bersama terhadap hal-hal yang sifatnya perlu kita toleransikan karena mau tak mau kita tidak bisa hidup sendiri, namun harus bersama-sama menjaga menjaga keberadaan kita, baik secara fisik maupun dalam konteks kejiwaan di mana kita perlu saling mentoleransi hal-hal yang bersifat primordial yaitu SARA,” jelasnya.
Wujudnya, menurut Ida Rsi, adalah bagaimana edukasi itu membuat kita melek dalam konteks itu, bagaimana kita mengingatkan negara-negara yang sedang berselisih, apalagi sedang berperang secara fisik agar segera melakukan genjatan senjata dulu dan merenungkan apa yang sedang mereka lakukan dan sebagainya.
Ketua Perayaan Hari Perdamaian Dunia, I Dewa Sudarsana mengatakan, peringatan Hari Perdamaian Dunia tahun 2023 ini melibatkan para seniman, budayawan, perwakilan stakeholders, Steering Committee dan Organizing Committee GP. Mereka mengumandangkan doa demi kedamaian alam semesta sembari mengekspresikan damai dalam suasana keprihatinan yang ditandai oleh maraknya hoax, ujaran kebencian, ancaman radikalisme di Indonesia dan perang antara Ukraina dan Rusia dan konflik di beberapa belahan dunia.
GP ke-21 tahun 2023 mengusung tema “Damailah Bangsaku. Jayalah Negeriku”. Komunitas Gema Perdamaian telah mendesign beberapa kegiatan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya untuk senantiasa menggaungkan damai di benak semua insan dan mengingatkan bahwa keadaan damai adalah kebutuhan kita semua tanpa sekat SARA karena keadaan damai adalah panggung perhelatan kehidupan kita sehari-hari. Dengan kegiatan-kegiatan ini diharapkan latar belakang budaya ekslusif yang anthroposentris bisa disadari menjadi yang ekosentris yang inklusif; bahwa kita semua bersaudara.

Salah satu kegiatan dalam peringatan Hari Perdamaian Dunia. (Foto: ist/Literasipost)
Kegiatan GP tahun ini sudah dimulai dari Juni 2023 dengan Event Kreatif Damai yang terdiri dari Lomba Kreatif Damai, Yoga Damai, dan yang lainnya kemudian dilanjutkan dengan peringatan Hari Perdamaian Dunia (International Peace Day) menyusul Sarasehan Damai Komunitas Gema Perdamaian yang telah digelar sebelumnya pada 3 September 2023. Yoga Damai yang digelar Pada 23 September nanti diisi oleh para praktisi dan Master Yoga Pasraman Bali Eling Spirit. Acara ini akan dilakukan secara hybrid dan diharapkan diikuti oleh ratusan pegiat Yoga di tanah air.
Selain kegiatan inti GP, Putra Putri Ambasador Damai 2023 juga ikut serta mengadakan kegiatan pendukung. “Kami sangat berharap kegiatan-kegiatan mulia kami memperoleh perhatian dari komunitas-komunitas sosial dan masyarakat yang peduli akan Perdamaian dan acara ini dapat dilaksanakan dengan baik” imbuh Koordinator Acara Puncak GP, I Kadek Adnyana. Menurutnya, kepedulian dan peran serta para sponsor sangatlah diharapkan sehingga upaya swadaya masyarakat dengan semua stakeholdernya dapat terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan bersama yang diharapkan.
Puncak acara GP akan digelar pada Sabtu (7/10/2023) di Pelataran Timur Monumen Bajra Sandhi yang melibatkan ribuan peserta pecinta damai dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah dan kalangan swasta. Ini adalah maha karya yang direncanakan melibatkan setidaknya 5 ribu masyarakat pecinta damai. Untuk mensukseskan agenda ini, panitia bersama stakeholder sedang melakukan berbagai persiapan termasuk pendekatan kepada berbagai insansi dan kelompok masyarakat agar mendukung agenda utama ini. Puncak acara Gema Perdamaian ini diharapkan menjadi “Hari Besar Damai Bersama” dan tonggak mengekspresikan rasa damai dari Bali ke seluruh dunia. Kerja keras dari para pengayah atau Organizing Committee yang dipandu oleh Steering Committee menjadi penentu bagi kesuksesan agenda ini. Pemerintah daerah, para tokoh umat beragama dan semua stakeholders sangat ditunggu partisipasinya untuk mengambil peran terdepan dalam menggaungkan dan mengekspresikan damai. Panggung ini sengaja disediakan agar para tokoh semua agama tampil memberi tauladan bagi umatnya betapa pentingnya selalu menjaga harmoni dan kedamaian.
Peran media masa tentu sangat vital dalam menyebarluaskan gerakan Gema Perdamaian ini sekaligus agar Bali benar-benar menjadi tolok ukur bagi gerakan damai sehingga tetap layak disebut Pulau Damai (Island of Peace) yang merupakan syarat mutlak bagi Bali sebagai destinasi utama pariwisata dunia. Mari kita dukung dan ekspresikan rasa damai dari Bali untuk dunia dan semesta. (igp/r)














