“Hiperealitas Foto Prewedding di Bali” Antarkan Dosen IDB Bali Raih Gelar Doktor di FIB UNUD

LITERASIPOST.COM, DENPASAR | Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNUD menyelenggarakan Promosi Doktor dengan promovendus Ramanda Dimas Surya Dinata, Jumat (13/5/2022) secara hybrid di ruang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, FIB UNUD.
Ujian terbuka dipimpin oleh Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., (Dekan FIB UNUD).
Dalam ujian terbuka, Ramanda berhasil mempertahankan disertasi dengan judul “Hiperealitas Foto Prewedding di Bali”. Setelah melalui tahapan ujian terbuka, Ramanda dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan merupakan Doktor ke- 163 di FIB Unud dan Doktor ke- 261 di Prodi Doktor (S3) Kajian Budaya.
Disampaikan, adat pernikahan masyarakat Hindu di Bali merupakan tradisi lokal atau kultur lokal. Sebelumnya tidak dikenal istilah foto prewedding, tetapi belakangan mulai disisipkan dan diproduksi melalui wacana dan praktik-praktik yang bersifat materialisme. Foto prewedding merupakan sub-culture, budaya baru yang melanda globalisasi. Hal itu merupakan bentuk artikulasi dari budaya modern atau postmodern. Karya fotografi merupakan salah satu pembentuk identitas dalam bentuk citra visual.
Menurut Ramanda, hadirnya unsur hiperealitas dalam foto prewedding di Bali disebabkan oleh empat faktor: (a) faktor gaya hidup; (b) faktor industri komersial; (c) faktor globalisasi; (d) negosiasi antara fotografer dan klien.
Dalam disertasinya, Ramanda merumuskan tiga temuan. Pertama, foto prewedding menciptakan fenomena bergesernya hiper ke realitas kebudayaan Bali. Sebelumnya hiperealitas menjadi realitas karena hal tersebut dilakukan oleh semua orang dan menjadi sesuatu yang biasa, padahal pada awalnya ditentang oleh sebagian pihak. Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan itu bukan sesuatu yang stabil tetapi dinamis dan selalu berubah.
Kedua, terjadi perubahan dalam identifikasi struktur kebudayaan. Artinya, kebudayaan Bali dalam konteks perayaan resepsi pernikahan sedikit demi sedikit telah berubah (tidak sama dengan masa lalu). Apa yang terjadi merupakan bentuk desakralisasi yang diakibatkan oleh reproduksi wacana-wacana simbolik. Dilihat dari sudut pandang tradisi foto prewedding merupakan sesuatu yang tidak penting namun penting dalam artikulasi identitas.
Ketiga, perkembangan foto prewedding setelah dua puluh lima tahun sangat mengalami kemajuan. Secara estetika tentu saja menjadi lebih baik dan lebih beragam secara konseptual. Foto prewedding tidak hanya berkonsep pada gaya budaya klasik namun telah berkembang ke dalam budaya post atau budaya posmo dalam bentuk kontemporerisasi gaya.
Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. selaku promotor menyampaikan bahwa disertasi Ramanda merupakan hasil penelitian yang menarik. Foto prewedding yang sekilas terlihat sederhana ternyata memiliki sekelumit hal menarik. Mulai dari pergolakan negosiasi antara klien dan fotografer hingga ke bentuk-bentuk hiperealitas dalam foto prewedding di Bali.
“Bentuk-bentuk hiperealitas dalam foto prewedding di Bali mampu dikonsepsikan dengan baik oleh Ramanda. Bentuk hiperealitasnya dimulai dari rekayasa visual, fabrikasi budaya, aksentuasi cinta, identitas hybrid, bahkan parodi dan reinterpretasi gaya,” ujarnya. (igp/r)
Sumber: http://www.unud.ac.id














