Menuju Ending AIDS 2030, Hilangkan Diskriminasi kepada ODHIV!

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Target penanggulangan HIV/AIDS yaitu 3 Zero 2030, meliputi Zero kasus baru HIV, Zero kematian penderita AIDS, dan Zero diskriminasi. Hanya saja, menurut dr. Oka Negara dari Forum Peduli AIDS (FPA) Bali, Zero diskriminasi masih sulit dicapai karena nyatanya diskriminasi terhadap pengidap HIV maupun penderita AIDS belum bisa dihilangkan di masyarakat.
“Kita sudah menuju Zero kasus baru HIV dan Zero kematian penderita AIDS, tapi masih terkendala pada Zero diskriminasi. Di negara-negara yang informasinya bagus seperti Eropa dan Amerika, diskriminasi dan stigma negatif itu sudah tidak ada. Harusnya kita di sini bisa seperti itu sehingga tujuan penanggulangan HIV/AIDS tercapai”, ujar dr. Oka pada Pelatihan Jurnalistik HIV/AIDS pada Sabtu (11/10).
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Jurnalis Peduli AIDS (KJPA) Bali bersama AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia bertempat di Klinik Yayasan Kerti Praja (YKP) Denpasar dan Hotel Puri Ayu Denpasar. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari YKP, FPA, Yayasan Gaya Dewata serta testimoni dari pengidap HIV.
Lebih lanjut dr. Oka menyampaikan Getting 3 Zero ditargetkan melalui Fast Track 95-95-95. Artinya, 95% ODHIV mengetahui status, 95% ODHIV yang tahu status inisiasi untuk pengobatan, dan 95% virus ODHIV on ARV tersupresi.
“Realitanya, ODHIV mengetahui status saat ini baru tercapai 87 persen, ODHIV yang tahu status inisiasi untuk pengobatan hanya 60 persen, dan virus ODHIV on ARV tersupresi hanya 28 persen, dari estimasi 25.739 ODHIV di Bali pada tahun 2024”, sebutnya.
Kumulatif kasus HIV menurut perkiraan faktor risiko di Provinsi Bali masih didominasi oleh kelompok heteroseksual sebesar 73%, disusul kelompok homoseksual sebesar 18% dan kelompok IDU (pengguna narkoba suntik) sekitar 2%. Lalu, berdasarkan rentang umur sebagian besar pada 20-29 tahun.
Dr. Oka menegaskan bahwa menuju Ending AIDS 2030, hanya tinggal kurang dari 6 tahun lagi. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi stakeholders (multipihak) secara sinergis serta perencanaan penganggaran yang tepat (memadai) untuk mendukung efektivitas program penanggulangan AIDS di Bali.
“Kami juga mendesak agar program penanggulangan HIV/AIDS ini bisa disisipkan pada kurikulum sekolah. Dulu sudah pernah, hasilnya cukup membanggakan. Namun, setelah itu tak ada lagi”, pungkas dr. Oka. (L’Post)














