Pamerkan “Pinara Pitu” dan Arsip Empat Dekade, Kelompok 7 SDI Layak jadi Maestro Seni Rupa Bali

LITERASIPOST.COM – DENPASAR | Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia (SDI) menggelar pameran bersama yang bertajuk “Pinara Pitu” di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar. Pameran dibuka oleh Rektor ISI Denpasar, Prof, Dr , I Wayan ‘Kun’ Adnyana, M.Sn, S.Sn pada Jumat (5/7/2024) yang akan berlangsung hingga 31 Agustus 2024.
Sudah 30 tahun lebih kebersamaan Kelompok 7 yang terdiri dari I Made Djirna, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Nyoman Wibawa, Made Sudibia, Made Bendi Yudha dan Made Ruta sebagai kelompok pada tahun 1991. Kini Kelompok 7 memutuskan berjumpa kembali. Pameran kali ini tidak hanya dimaknai sebagai pameran reuni biasa, namun ada pula hal-hal yang ingin dibagikan kepada publik seni rupa Bali.

Pengunjung sedang melihat karya Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang dipamerkan di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar. (Foto: Literasipost)
“Kita di Bali telah banyak kehilangan maestro sepeninggal Gunarsa dan Wianta. Kita sebenarnya punya segudang maestro lain yang harus kita angkat untuk dijadikan semacam ‘pratima’ atau panutan pada dunia seni rupa Bali, dan merekalah (Kelompok 7) panutan itu. Itulah akhirnya kami mengajak mereka untuk berpameran bersama di sini karena mereka sudah punya pengalaman yang cukup lama,” ujar Manager Santrian Art Gallery, I Made ‘Dolar’ Astawa.
Pameran yang berkolaborasi dengan Gurat Art Project ini selain menghadirkan karya terbaru dari tiap-tiap anggota Kelompok 7, juga menampilkan arsip-arsip berupa karya, dokumentasi foto, artikel dari para penulis dan berbagai publikasi. Arsip dan sisi historis ini diharapkan menjadi ruang edukasi bersama bagi generasi kini untuk mengenal sepenggal fragmen sejarah perkembangan seni rupa Bali dekade 90an melalui studi kasus aktivitas Kelompok 7. Model pameran seperti ini juga diharapkan sebagai momentum untuk menghadirkan dan memaknai kehadiran sebuah peristiwa pameran selain sebagai ruang apresiasi juga sebagai ruang pengetahuan dan perayaan serta pemaknaan kembali atas arsip.
Kurator dari Gurat Art Project, Savitri Sastrawan menyampaikan “Pinara Pitu” merupakan sebuah frame yang diharapkan sebagai pintu masuk untuk melihat dinamika dan pergerakan artistik para eksponennya kini dengan keberagaman karakter artistik, konsep dan cara berkesenian. Pinara Pitu diambil dan dimaknai secara lebih dinamis dari sebuah konsep Genta Pinara Pitu dalam teks Lontar Prakempa dan Aji Gurnita – sebuah teks Bali yang membahas tentang suara, musik dalam filosofi Bali. Genta Pinara Pitu adalah sebuah konsep yang menguraikan tentang filosofis tujuh suara alam semesta yang berevolusi menjadi nada instrumental berbagai gamelan Bali. Dalam konsep Pinara Pitu, setiap nada dan warna suara yang dihasilkan berasal dari suara-suara yang terlahir di lima unsur alam (Panca Maha Bhuta) yang berevolusi menjadi tujuh karakter nada yang mewakili lima karakter unsur alam semesta.
“Konsep keberagaman warna dan karakter suara itu dalam konteks pameran Kelompok 7 dapat dimaknai sebagai tujuh karakter visual, artistik, konsep dan cara pandang ketujuh eksponen Kelompok 7 kini, setelah empat dekade mengarungi dunia kesenirupaan dengan pilihan cara berkarya masing-masing baik sebagai pelaku seni maupun sebagai pendidik seni. Melalui pameran Pinara Pitu kita akan melihat tujuh karakter artistik yang dihadirkan oleh Djirna, Budhiana, Erawan, Wibawa, Bendi Yudha, Ruta dan Sudibia kini sembari melihat dan memaknai bersama apa yang mereka telah hadirkan dalam medan sosial seni rupa Bali,” ungkap Savitri.
Kelompok 7 memulai kegiatannya dengan berpameran di Museum Neka pada tahun 1990. Aktivitas dan kiprah Kelompok 7 tidak hanya memberi warna dan dinamika dalam tubuh SDI secara internal, namun lebih jauh dari itu memberi dinamika tersendiri bagi hadirnya kelompok perupa yang berlatar akademis dengan capaian artistik yang dinamis pada awal dekade 90an di Bali. Pada awal dekade 1990an dinamika aktivitas kolektif pada perupa di Bali belum begitu jamak dilakukan terlebih bagi para perupa yang terlahir dari bangku akademik.
Kelompok 7 hadir dengan artistik yang lebih beragam sebagai hasil dari penerapan akademik dan persinggungan mereka dengan kebudayaan di luar Bali yakni Yogyakarta sebagai tempat perjumpaan perupa dari lintas wilayah di Indonesia. Kecenderungan karya yang lebih eksperimental, pengolahan atas material dan eksplorasi-eksplorasi non representasional menjadi tawaran artistik “baru” bagi medan sosial seni kala itu. Hal ini juga memberi inspirasi dan memantik para perupa muda Bali kala itu untuk menghadirkan eksplorasi yang lebih beragam dan dinamis.
“Sehingga tidak berlebihan jika kehadiran Kelompok 7 menjadi catatan yang menarik untuk dilihat dan diaktualisasikan sebagai bagian dari dinamika sejarah perkembangan seni rupa Bali pada dekade 90an. Kehadiran mereka kini untuk berpameran kembali sebagai sebuah kelompok akan sangat sayang jika hanya dimaknai sebagai sebuah pameran reuni yang penuh romantisir maupun eksotisnya nostalgia masa lalu antar anggotanya,” tutupnya. (igp)














