Tak Hanya Bersih, Penglipuran juga Regeneratif

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Beberapa tahun terakhir, Penglipuran sering disebut sebagai desa wisata (Dewi) yang indah, rapi, bersih, dan instagramable. Namun, dalam perjalanannya bahwa keindahan saja tidak cukup. Karena itu, pihak pengelola mulai menggeser cara pandang dari sekadar pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif.
Kepala Pengelola Dewi Penglipuran, I Wayan Sumiarsa menjelaskan bahwa arti dari pariwisata regeneratif bukan hanya “jangan merusak”, tapi setiap kunjungan wisata justru diusahakan menambah kebaikan: bagi hutan bambu, struktur sosial dan adat desa, UMKM lokal, dan anak muda Penglipuran yang dilibatkan dalam setiap kegiatan. Arti lainnya adalah bukan hanya “mempertahankan yang sudah baik”, tapi secara aktif memperbarui dan menguatkan alam, budaya, dan kehidupan sosial.
“Itulah, mengapa kami mengusung pesan: Penglipuran, Desa Regeneratif: perjalanan menuju pariwisata berkelanjutan di Bali. Ini bukan slogan kosong atau omon-omon, tapi kompas yang kami pakai untuk mengambil keputusan, termasuk saat menyiapkan program akhir tahun: dari Parade Barong Macan, teatrikal Tetantria Macan Gading, dekorasi bambu tanpa plastik sekali pakai, sampai Bamboo Café yang mengangkat produk lokal”, ujar Sumiarsa saat ngobrol bareng media di Denpasar yang turut dihadiri oleh pendamping dan mentor dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana di antaranya Prof Sunarta, Dr. Adi Kampana, Dr. Gus Mananda, Wida, Gian, dan Andre, serta Trisno Nugroho.
Pihaknya pun menyampaikan apresiasi kepada media yang selama ini telah bersinergi dalam memberitakan Dewi Penglipuran secara positif. Menurutnya, tanpa pemberitaan dan cara memaknai Penglipuran, pesan “desa regeneratif” ini tidak akan sampai dengan baik kepada publik. Ada yang menulis Penglipuran sebagai tempat “healing yang bermakna”; ada yang menyoroti ekonomi regeneratif dan wisata hijau; ada yang menekankan peran anak muda, UMKM, dan kearifan lokal; serta ada yang menjelaskan dengan sangat terang perbedaan antara sustainable tourism dan regenerative tourism dalam bahasa yang mudah dipahami pembaca.
“Bagi kami, itu semua adalah bentuk gotong royong narasi. Kami di desa menata ruang, menata program, dan menata perilaku, kemudian media menata kata-kata dan cerita, sehingga publik bukan hanya tahu ada event di Penglipuran, tetapi juga mengerti mengapa dan untuk apa event itu diadakan”, sebutnya.
Diakuinya, Penglipuran hanyalah desa kecil. Tapi, dari desa kecil ini bisa mengirim contoh yang besar bahwa pariwisata tidak harus mengorbankan jati diri; desa adat dan masyarakat lokal bisa menjadi subyek utama, bukan hanya latar belakang; dan wisatawan bisa datang bukan hanya sebagai penikmat, tetapi sebagai mitra regenerasi.
“Semoga ngobrol santai hari ini membawa energi baru bagi kolaborasi ke depan, demi Penglipuran yang semakin lestari, semakin menyejahterakan warganya, dan semakin memberi inspirasi bagi Indonesia dan dunia”, tutup Sumiarsa. (L’Post)














