January 30, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Touring YKWA ke Penglipuran, Memaknai Ngusaba Nangkan yang Sakral

LITERASIPOST.COM – BANGLI | Setelah aksi tali kasih dengan mengunjungi warga yang sakit di Banjar Gunaksa, Yayasan Kaori Welas Asih (YKWA) bersama Sahabat Media di bawah pimpinan Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota melanjutkan “Touring Sepeda Motor” ke Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli.

Tiba di desa yang sangat asri ini, Tim YKWA disambut hangat penuh kekeluargaan oleh Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta. Disebutkan, Desa Wisata Penglipuran merupakan salah satu desa wisata yang menjadi primadona pariwisata di Bali dan masuk destinasi populer dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara.

BACA JUGA :  Bali Dilanda Cuaca Ekstrem, Operasional Bandara Ngurah Rai Normal

Bahkan, semakin hari keberadaan Desa Wisata Penglipuran semakin mendunia, lantaran daya tarik berupa tata ruang desa, arsitektur bangunan tradisional yang khas, serta adat istiadat yang unik. Selain itu lingkungan yang asri, tak mengherankan Desa Wisata Penglipuran mendapat julukan desa terbersih di dunia.

Sangat bersyukur, kehadiran tim YKWA kali ini bertepatan dengan pelaksanaan upacara tingkatan Utamaning Yadnya di Desa Wisata Penglipuran, yakni Ngusaba Nangkan. Winie Kaori dan tim pun sangat mengapresiasi pelaksanaan yadnya ini sesuai adat istiadat atau Sima Dresta Desa Adat setempat.

Terakhir kalinya, upacara Ngusaba Nangkan dilaksanakan pada tahun 1993, sehingga lebih dari  30 tahun upacara ini belum dilaksanakan. Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta menyampaikan, bahwa Puncak Karya Ngusaba Nangkan dilakukan bertepatan dengan Purnamaning Kapat, yang dipusatkan di Pura Penataran Desa Adat Penglipuran.

BACA JUGA :  Gelar Halal Bi Halal, FPSI Bali Gaungkan "Membangun Harmoni Keumatan"

“Upacara Ngusaba Nangkan baru kembali dilaksanakan tahun 2024 ini, dikarenakan berbagai faktor, seperti adanya perbaikan infrastruktur atau pembangunan masih dalam proses dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun,” terangnya.

Setelah unsur Parahyangan selesai dibangun, kemudian melalui Paruman Desa Adat disepakati untuk menggelar Upacara Ngusaba Nangkan sesuai dengan siklus menjalankan Ngusaba Nangkan, minimal 12 tahun sekali, dengan catatan tidak ada halangan tertentu.

“Pada intinya, upacara Ngusaba Nangkan sebagai ucapan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di wewidangan Desa Adat Penglipuran atas berkah berlimpah kepada masyarakat,” kata Wayan Budiarta.

Terlebih lagi, Upacara Ngusaba Nangkan dipimpin oleh seorang Jro Kubayan sesuai dengan Tegak Ulu Apat, pada Tata Pemerintahan Adat. “Itu paling tertinggi adalah Jro Kubayan dan Beliau yang kemudian memimpin upacara adat ini sesuai dengan Sima Dresta yang ada disini,” paparnya.

BACA JUGA :  Pemilihan Mahasiswa Berprestasi, FTP UNUD Siap Kirim Perwakilan ke Jenjang Universitas

Selain itu, juga dipersiapkan bakti atau upakara berbahan banten berupa sarana prasarana untuk pelaksanaan upacara ini yang memang semua sarana menggunakan tata cara lokal.

“Jadi, kami melakukan sesuai dengan adat tradisi kami disini, tapi pada intinya  tujuannya sama, yaitu mengucapkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tingkatan paling utama,” paparnya.

Meski demikian, sarana upakara yang digunakan hampir mirip dengan upacara biasanya. Namun, sarana tersebut harus dilengkapi dan disempurnakan.

Kelengkapan Upakara Yadnya dikoordinir oleh Ulu Apat atau Kanca Roras yang merupakan Peduluan, yang kemudian merancang sarana upakara untuk upacara Ngusaba Nangkan.

BACA JUGA :  Prodi Doktor Ilmu Peternakan FAPET UNUD Adakan Kuliah Tamu Biomolekuler

“Upakara di sana memakai bayuhan berasal dari potongan babi yang dicari dalamnya dan dirangkai kembali untuk menjadi suatu rangkaian  yang utuh, sesuai dengan adat kami,” tambahnya.

Tak hanya itu, juga dipersembahkan sarana dangsil, penek dan perlengkapan lainnya seperti tegen-tegenan yang digantung pada bangunan-bangunan di pura, untuk menambah variasi dan keragaman dalam upakara ini.

“Hal itu juga dilengkapi dengan bakti-bakti yang memang jangkep atau lengkap. Biasanya upacara dibawahnya tingkat madya itu biasanya tidak terlalu lengkap, tetapi sekarang ini harus lengkap,” pungkasnya. (IGP/r)

Related Posts