Wujudkan Desa Tangguh Bencana, 22 Desa dari Gianyar dan Karangasem Ikuti Cross-Learning Program Bali Mandala

LITERASIPOST.COM – Denpasar | IDEP Selaras Alam melalui program Bali Mandala menggelar kegiatan Cross-Learning: Penguatan Desa Tangguh Bencana Inklusif dan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana, Adaptasi Perubahan Iklim, serta SDGs dalam Tata Kelola Desa Program Bali Mandala 2026 bertempat di Sanur, Kota Denpasar, Sabtu (24/10). Kegiatan ini merupakan puncak atau penutup dari program Bali Mandala yang telah berlangsung selama 17 bulan.
Program tersebut diwujudkan melalui rangkaian gladi ruang (Table Top Exercise/ TTX) dan simulasi lapangan kebencanaan inklusif yang diselenggarakan di empat desa dampingan di Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Karangasem. Yakni, simulasi banjir genangan di Desa Pejeng Kelod (Gianyar), simulasi cuaca ekstrem atau angin kencang di Desa Nawa Kerti (Karangasem), simulasi gempa bumi di Desa Labasari (Karangasem), dan simulasi tanah longsor di Desa Manukaya (Gianyar).
Llebih dari 400 warga dan elemen masyarakat terlibat langsung dalam rangkaian simulasi tersebut, mencakup unsur Forum PRB Desa (FPRB), Tim Siaga Desa, aparatur pemerintah desa, kelompok perempuan, pemuda, lansia, anak-anak, hingga penyandang disabilitas.
Edward Angimoy selaku Direktur Eksekutif IDEP, menyampaikan bahwa kegiatan penutup kali ini mempertemukan perwakilan 4 desa dampingan serta 18 desa lainnya di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, dan Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, bersama pemerintah kecamatan dan tenaga ahli pendamping. Partisipan saling berbagi pengalaman, membahas pilihan perencanaan dan penganggaran berbasis risiko, serta menyusun usulan tindak lanjut yang dapat dibahas lebih lanjut di desa dan kecamatan.
“Hasil yang diharapkan dari pertemuan ini, adalah pembelajaran dari pengalaman antar desa, termasuk kondisi yang mendukung keberhasilan dan kendala yang perlu diantisipasi, draf rencana tindak lanjut di tingkat desa serta rumusan kebutuhan dukungan dan koordinasi dengan kecamatan”, ungkap Edward Angimoy.

Edward Angimoy selaku Direktur Eksekutif IDEP. (Foto: Literasipost)
Ditambahkan, Cross-Learning Bali Mandala merupakan bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan hasil program melalui pertukaran pengetahuan, penguatan koordinasi kelembagaan, dan perluasan praktik ketangguhan bencana yang inklusif. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan pembelajaran yang dapat diterapkan, komitmen antarpemangku kepentingan, serta rencana tindak lanjut yang mendukung integrasi DRR, CCA, dan SDGs dalam tata kelola desa dan kecamatan.
Desa dampingan yang telah mengikuti program, berbagi pengalaman pada forum diskusi ini. Ni Luh Muriani dari Desa Labasari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem menuturkan pada awalnya dirasakan agak susah untuk mencari partisipan. Namun, seiring waktu akhirnya masyarakat sangat antusias terlebih saat digelarnya simulasi publik.
“Program Bali Mandala ini sangat bagus, masyarakat semakin terbuka pikirannya tentang kebencanaan. Inilah yang kami sharing di pertemuan ini”, katanya.
Dedi Widiana dari Desa Pejeng Kelod menyampaikan melalui simulasi banjir genangan yang menjadi potensi bencana di desa setempat, telah dibentuk forum PRB dan relawan serta menyusun rencana kontigensi untuk upaya mitigasi kebencanaan.
“Kami di desa berkomitmen untuk melanjutkan apa yang telah kami dapatkan di program Bali Mandala ini”, ujarnya.
Desa lainnya mendapatkan pengalaman tentang pelaksanaan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang inklusif, termasuk hasil, tantangan, dan pelajaran yang relevan, memahami cara menggunakan informasi risiko bencana dan iklim dalam perencanaan serta penganggaran desa.
Agus Hendra darma dari Desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem mengatakan potensi bencana di desanya seperti gunung api, angin kencang dan gempa bumi.
“Lewat pertemuan ini kita lebih tau apa itu bencana dan ancamannya, lalu informasi tersebut bisa disebarkan kepada masyarakat lebih luas, kemudian mitigasinya seperti apa yang selanjutnya kami bisa sinergi dengan BPBD”, tuturnya.
Ayu Alit Suriantini dari Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, mengatakan desanya berada di dataran rendah sehingga potensi bencana yang bisa terjadi seperti tanah longsor dan banjir yang tidak ekstrem.
“Melalui kegiatan ini bisa lebih terstruktur mulai dari tahap perencanaan, kemudian bagaimana penganggaran di desa dan juga aksi jika bencana tersebut datang, semua ini akan kami sampaikan kepada masyarakat dan kami akan membentuk tim lagi”, sebutnya.
Untuk diketahui, IDEP Selaras Alam adalah organisasi non-pemerintah di Bali yang berfokus pada pengembangan masyarakat, pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, dan adaptasi perubahan iklim. Program Bali Mandala merupakan inisiatif penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan ketangguhan iklim di tingkat desa yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA. (L’Post)
(Penulis: Darmawan)














