Aksi Pembersihan Saluran Air untuk Antisipasi Banjir di Legian

LITERASIPOST.COM – Legian | Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara tak pernah diam. Selain Beach Clean Up di destinasi Pantai Legian, tokoh vokal ini juga menggerakkan komponen masyarakat untuk melakukan aksi bersih-bersih saluran air/drainase guna mencegah banjir. Aksi kali ini dilaksanakan di sepanjang Jalan Pandawa, Kelurahan Legian, Sabtu (20/12).
Puspa Negara mengatakan aksi ini dilakukan khusus di Jalan Pandawa karena kawasan ini selalu tergenang air saat musim hujan. Meski intensitas hujan kecil, kawasan ini kerap tergenang air. Untuk itu pihaknya menggerakkan seluruh pelaku usaha yang ada di kawasan Jalan Dewi Sri termasuk provider yang mengambil kehidupan di kawasan ini serta masyarakat, dan tentu leading sector yaitu DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan).

Aksi bersih-bersih saluran air/drainase guna mencegah banjir di sepanjang Jalan Pandawa, Kelurahan Legian. (Foto: Literasipost)
“Peralatan kita cukup siap, yaitu ada dua truk kita siapkan, kemudian traktor dan pekerja dengan alat-alatnya masing-masing, dan hari ini satu got sudah kita bersihkan yang kemarin got ini menyumbat aliran air menuju sungai dan mengakibatkan kawasan ini banjir serta terlihat jorok”, ungkap Puspa Negara.
“Kita juga warning pemilik bambu yang menutupi got dan sudah dilakukan kerja sama yang baik, tinggal sekarang kita akan jadikan kawasan ini sebagai pilot project kebersihan serta untuk antisipasi dan mitigasi banjir”, sambungnya.
Dikatakan, dari titik ini aksi bersih-bersih akan bergerak ke titik yang lainnya. Setiap minggu akan dilakukan gerakan bersih-bersih di jalan-jalan yang merupakan kawasan Land Consolidation (LC) Dewi Sri termasuk pembersihan drainase, gorong-gorong, got dan saluran air lainnya untuk memberikan ruang kepada air bisa bergerak dengan cepat agar kawasan tersebut tidak mudah banjir di musim hujan.
Puspa Negara menyebutkan tiga faktor yang menyebabkan kerap banjir di kawasan ini. Faktor utamanya adalah curah hujan yang lebat di atas kapasitas normal. Faktor berikutnya, kawasan ini merupakan daerah tangkapan/resapan air (catchment area) dimana sebelum tahun 1998 sebagai kawasan persawahan basah. Biasanya di sini air parkir seluas 275 hektar. Namun sekarang kawasan parkir untuk air itu tidak ada, akibat sudah terbangun dan alih fungsi lahan. Bidang resap otomatis sudah tidak ada dan yang ada hanya saluran Tukad Mati yang menampung air yang turun ke 275 hektar tersebut. Akibatnya, Tukad Mati tidak sanggup menampung dan akan meluap.
“Usul kami, selain saluran air dan gorong-gorong dibersihkan, segmentasi Tukad Mati dikeruk yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, kami minta ada saluran baru yang sepadan dengan jumlah air yang biasanya parkir di kawasan ini, kalau tidak maka selamanya kawasan ini akan banjir”, tegasnya.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Badung mengambil tindakan dengan revolusioner berkaitan dengan upaya penanggulangan banjir di kawasan Dewi Sri dan sekitarnya”, lanjut Puspa Negara.
Kemudian faktor ketiga, karena di kawasan sebagai catchment area maka air itu naik dari bawah dan area ini menjadi mampat/padat. Air dari sungai masuk ke daratan, kemudian menunggu sungainya surut barulah air akan kembali ke sungai. Tapi kalau gorong-gorong bagus, saluran air bagus, kecepatan air untuk mengalir ke sungai akan menjadi lebih bagus.
“Oleh karena itulah kita lakukan kegiatan ini sebagai pilot project dan kita akan teruskan, memang target kita setiap minggu tapi insidentil dalam keadaan tertentu kita akan gerakkan selalu seluruh masyarakat di kawasan ini, kami berterima kasih kepada LPM, para provider, pelaku usaha, serta stakeholder dari DLHK Kabupaten Badung yang telah terlibat dalam kegiatan ini”, tutup Puspa Negara. (L’Post)














