BLINC 2026 di Bali, Kolaborasi Global Perangi Stroke

LITERASIPOST.COM – Nusa Dua | Menyusul kesuksesan penyelenggaraan pertama pada awal 2024, Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) kembali hadir untuk kedua kalinya tahun ini dengan lebih banyak hal menarik, pembelajaran dan peluang kolaborasi. BLINC 2026 berlangsung pada 27-28 April 2026 di Bali International Convention Centre (BICC) Nusa Dua, Bali.
Mengusung tema “Stroke Wars: Beyond The Circle”, konferensi ini mengundang para ahli internasional dari Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan ASEAN, untuk berbagi pengetahuan yang berharga dan mendorong kolaborasi antara institusi kesehatan Indonesia dengan institusi global.

Suasana pelaksanaan BLINC 2026 di Bali International Convention Centre (BICC) Nusa Dua, Bali. (Foto: Literasipost)
Conference Chair, dr. Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas menyampaikan Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2018 meningkat signifikan menjadi 10,9 per mil (10,9 dari 1.000 penduduk) pada usia ≥15 tahun.
“Sekarang dunia kedokteran sudah mengalami kemajuan pesat, dulu penanganan stroke dengan operasi besar, tapi kini bisa lewat minimal invasif, yakni seminimal mungkin melukai tubuh pasien dengan pemasangan kateter”, ujar dr Affan.
Conference Co-chair, Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S (K), FINS, FINA menambahkan bahwa stroke merupakan bagian dari penyakit lifestyle (gaya hidup). Stroke tidak terjadi begitu saja, tapi ada gaya hidup yang mendasari di luar faktor keluarga dan faktor lainnya yang tidak bisa dihindari.
“Gaya hidup menjadi penyebab utama dari faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stroke seperti darah tinggi, kencing manis atau diabetes, gangguan pada kadar lemak darah dan kurang aktivitas. Ancaman stroke akibat kemajuan teknologi juga semakin meningkat, orang-orang lebih banyak diam dan jarang bergerak, maka kita perlu mengantisipasi terjadinya stroke sedini mungkin”, sebut dr Kumara.
Dikatakan, di Bali khususnya di RS Ngoerah Denpasar sudah ada Coach Stroke (pendampingan) bagi pasien yang mengalami stroke kurang dari 24 jam. Tujuannya adalah untuk pengobatan lewat pemberian obat-obatan hingga kateter.
Dengan semakin banyaknya peserta dari luar Indonesia pada BLINC 2026, diharapkan akan semakin banyak peluang sharing keilmuan, teknik dan alat yang diterapkan untuk penanganan stroke. Terlebih, Indonesia sangat luas sehingga dibutuhkan lebih banyak SDM yang kompeten.
“Dari pertemuan ini juga kita harapkan bisa meningkatkan kualitas tindakan dan kompetensi para dokter kita”, tutup dr Affan. (L’Post)














