Tata Kelola Sampah di Destinasi Pariwisata Pelik

LITERASIPOST.COM – Legian | Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara menyoroti penanganan sampah khususnya di wilayah Kabupaten Badung, Bali. Menurutnya, pemerintah harus segera menyasar Horeka (hotel, restoran dan kafe) hingga tempat kos.
“Prajuru, tokoh, warga sudah sadar dan aktif memilah, 99 persen warga lokal sudah sregep, masalahnya adalah Kecamatan Kuta itu destinasi kosmopolitan yang populasinya hiperheterogen, akibatnya warga lokal sudah taat tapi pihak lainnya yang jumlahnya jauh lebih banyak ditambah WNA (warga negara asing) belum mendapat penyadaran akan tata kelola sampah”, tegasnya.
Dikatakan, sumber sampah di destinasi sangat kompleks, diantaranya :
1. Penghuni kos
2. Penghuni kos elit
3. Pelaku UMKM
4. Pelaku usaha menengah
5. Pengelola & penghuni stratatitle
6. Pengelola & penghuni time share
7. Pengelola & penghuni kondotel
8. Pengelola dan penghuni villa
9. Pengelola & penghuni town house
10. Pengelola dan penghuni Horeka menengah ke bawah
11. Pengelola & staf spa, galeri, barber, tatto, tourist information, shop, artshop, & money changerdan sejenisnya
12. Wisatawan :
a. Domestik : 850 rb/hari
b. Asing : 700 rb/ hari
13. Sampah pantai
14. Sampah sungai
15. Laundry, dry clean, apotek
16. Garmen, factory outlet, distro, kniting
17. Pedagang keliling, pedagang acung, & sektor nonformal lainnya
18. Hipermarket, supermarket, superstore, minimarket & toko kelontong non & berjejaring
19. Sektor transportasi, tour guide, freelancer, dan sejenisnya.
“Badung perlu perkuatan teknologi, infrastruktur sampah, perkuatan SDM DLHK hingga gather-togather dengan stakeholders”, katanya.
“Ini perlu langkah extraordinary, cerdas, spesifik, fokus dan sistemik, Badung punya anggaran yang cukup. Jika ada good will dan political will, persoalan sampah pasti bisa dituntaskan dengan cepat”, tutup Puspa Negara yang juga rutin menginisiasi gerakan Beach Clean Up di Pantai Legian setiap hari Jumat. (L’Post/r)














