November 2, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Penglipuran Festival XIII Siap Digelar, Usung Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Penglipuran Village Festival XIII siap digelar pada 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali, dengan mengangkat tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif”. Melalui tema tersebut, Penglipuran ingin menyampaikan pesan bahwa pariwisata masa depan tidak cukup hanya ramai dikunjungi. Pariwisata harus mampu menjaga adat, merawat lingkungan, menguatkan ekonomi masyarakat, memperkaya pengalaman wisatawan, serta mewariskan desa yang lebih baik kepada generasi mendatang.

Kepala Badan Usaha Desa Adat Penglipuran, Wayan Sumiarsa, menyampaikan Penglipuran Village Festival XIII bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kebersamaan untuk mempertemukan budaya, lingkungan, UMKM, edukasi, partisipasi masyarakat, dan semangat regeneratif desa.

BACA JUGA :  Appreciation Night: Solia Legian Pererat Hubungan dengan Mitra

“Penglipuran tidak hanya ingin dikenal sebagai desa wisata yang indah, bersih, dan tertata. Kami ingin Penglipuran menjadi contoh desa wisata yang hidup, berbudaya, inklusif, dan regeneratif. Festival ini adalah undangan kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan dunia untuk datang, merasakan, belajar, mendukung produk lokal, serta ikut menjaga warisan Penglipuran”, ujar Wayan Sumiarsa saat temu media di Denpasar, Senin (22/6).

Penglipuran Village Festival XIII dirancang sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga pengalaman. Festival ini mengusung konsep 4S, yaitu Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn. Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat keindahan desa, tetapi juga dapat ikut melakukan aktivitas kreatif, menyaksikan pertunjukan budaya, membeli produk lokal, menikmati kuliner, mengenal UMKM, mengikuti workshop, serta belajar tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat desa adat.

Sebagai wujud nyata dari tema pariwisata inklusif, rangkaian kegiatan selama tiga hari juga akan melibatkan warga penyandang disabilitas untuk turut meramaikan festival sesuai minat, kapasitas, dan ruang partisipasi yang tersedia. Kehadiran mereka menjadi pesan penting bahwa Penglipuran ingin membangun pariwisata yang memberi ruang bagi semua, menghargai keberagaman, serta memastikan setiap warga dapat menjadi bagian dari kemajuan desa.

BACA JUGA :  BEM FMIPA UNUD Laksanakan Growth Class FMIPA Batch 1

Pada hari pertama, festival akan dibuka dengan nuansa budaya yang kuat melalui penyambutan tamu undangan, tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, pembukaan resmi festival, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, peninjauan stan pameran, penilaian lomba gebogan, penilaian lomba penjor, serta seni pertunjukan.

Pada hari kedua, festival akan menghadirkan workshop lingkungan, lomba busana tempoe doloe, serta musik lokal. Hari kedua ini menjadi ruang edukasi, kreativitas, ekspresi budaya, dan pelibatan generasi muda.

Pada hari ketiga, festival menghadirkan Yoga Tertawa dan musik lokal sebagai simbol kegembiraan, kesehatan, kebersamaan, dan energi positif masyarakat Penglipuran.

“Kami ingin wisatawan pulang tidak hanya membawa foto, tetapi juga membawa cerita, pengetahuan, rasa hormat, dan pengalaman bermakna tentang harmoni hidup masyarakat Penglipuran,” jelas Wayan Sumiarsa.

Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini juga menjadi ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM, seniman lokal, generasi muda, krama desa, warga penyandang disabilitas, serta wisatawan yang ingin merasakan langsung kehidupan Desa Adat Penglipuran.

BACA JUGA :  Kapolda Bali Beri Semangat Anak-anak Peserta Vaksinasi Serentak Indonesia

Penglipuran Village Festival XIII menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk hadir dan merasakan langsung kehidupan desa adat Bali yang harmonis, bersih, tertata, ramah, inklusif, dan berbudaya. Festival ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat peran UMKM dan produk lokal. Melalui stan kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, dan paket pengalaman wisata, manfaat pariwisata diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat desa.

“Datang ke Penglipuran Festival berarti menikmati budaya, belajar dari desa, mendukung UMKM lokal, menghargai keberagaman, dan ikut menjaga masa depan pariwisata Bali,” ujar Wayan Sumiarsa.

Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 adalah momentum untuk merayakan wajah Bali yang hidup: adatnya kuat, alamnya dijaga, masyarakatnya terlibat, UMKM-nya tumbuh, kelompok rentan diberi ruang, dan pariwisatanya bergerak menuju masa depan yang regeneratif. Penglipuran ingin menunjukkan bahwa desa wisata masa depan bukan hanya desa yang ramai dikunjungi, tetapi desa yang mampu menjaga jati diri, membangun kesejahteraan, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan pariwisata yang memberi manfaat bagi semua. (L’Post)

Related Posts