September 9, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Perkuat Habit Pelaku Usaha, Masyarakat, dan Wisatawan untuk Peduli Kebersihan Pantai 

LITERASIPOST.COM – Legian | Tim WPN (Wayan Puspa Negara) bersama komunitas BumiKita dan pelaku usaha secara rutin setiap hari Jumat melaksanakan Beach Clean Up (bersih-bersih pantai) di Pantai Legian, Kabupaten Badung, Bali. I Wayan Puspa Negara selaku inisiator menegaskan bahwa gerakan ini dilakukan secara konsisten dan terus-menerus, karena inti dari setiap kegiatan itu akan bermakna jika dilaksanakan secara konsisten.

“Konsistensi ini kita tunjukkan sudah lebih dari enam tahun, kita bergerak di pantai ini tidak pernah berhenti setiap hari Jumat pagi”, ungkap Puspa Negara saat kegiatan Beach Clean Up, Jumat (3/7).

BACA JUGA :  Satrio Welang Luncurkan Video Art Puisi "Luminosa"

Lanjutnya, tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan kebiasaan atau habit bagi pelaku usaha, masyarakat, stakeholder termasuk wisatawan agar terbiasa memandang sampah itu sebagai sebuah tanggung jawab. Sehingga, ketika setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampah maka alam menjadi bersih.

Sejauh ini pihaknya mengapresiasi seluruh pelaku usaha, stakeholder, masyarakat termasuk wisatawan yang sudah ikut berbaur membersihkan Pantai Legian setiap Jumat pagi. Itu artinya tanggung jawab sosial mereka terlihat karena tanpa diminta selalu hadir secara bergilir.

“Artinya, upaya kita untuk menciptakan kebiasaan, kemudian tanggung jawab yang responsif terhadap lingkungan, itu tercipta sedemikian rupa. Selanjutnya kegiatan ini tetap akan berlangsung sebagai upaya memberikan ruang kepada pelaku usaha dan masyarakat untuk turut menjaga kebersihan pantai ini agar tetap bersih, sehat dan asri”, jelasnya.

Edukasi Pemilahan Sampah

Proses pemilahan sampah usai kegiatan Beach Clean Up di Pantai Legian. (Foto: Literasipost) 

Melalui kegiatan Beach Clean Up ini juga digencarkan sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik. Puspa Negara yang juga sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung ini mengatakan, pemilihan sampah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengelolaan sampah. Karena, tidak ada negara maju satupun di dunia ini yang warga negaranya tidak memilah sampah.

“Pemilihan sampah menjadi wajib karena ke depan sampah yang tidak dipilah itu tidak akan diangkut, begitu juga ketika PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) sudah beroperasi nanti hanya akan menerima sampah yang sudah dipilah”, sebutnya.

Tak hanya di pantai, pemilahan sampah juga dilakukan di tempat usaha masing-masing. Diakui, beberapa pelaku usaha sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Bahkan, ada hotel membeli mesin Refuse Derived Fuel (RDF) sendiri, mesin pencacah, dan insinerator. Hal ini menjadi motivasi bagi pelaku usaha lainnya dengan harapan mereka bisa mengelola sampai secara mandiri tetapi tetap disupervisi oleh pemerintah terutama menyangkut emisi dan tata cara.

BACA JUGA :  Geliatkan Ekonomi dan Pariwisata Melalui "Unique Bali Festival 2022"

“Karena mereka juga bayar pajak, harus ada servis yang diberikan oleh pemerintah kepada mereka”, ucap Puspa Negara.

Dikatakan, sejauh ini pelaku usaha di wilayah Kelurahan Legian sudah sangat taat soal itu. Masyarakat pun telah melakukan pemilihan sampah. Hanya saja, fenomena di daerah Legian ada penduduk pagi, penduduk siang, dan penduduk malam yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan tujuan bekerja, menetap atau menetap sementara. Kondisi inilah yang kerap menghasilkan sampah belum terkelola dengan baik. Misalnya, kos-kosan, wisatawan, driver, guide, dan lainnya yang bergerak di sini untuk mencari penghidupan harus diberikan edukasi secara terus-menerus karena mereka berganti-ganti orang setiap saat.

“Jadi, intinya edukasi berjalan secara terus-menerus. contoh-contoh atau keteladanan harus kita berikan, kekuatan menegakkan aturan juga terus kita jalankan, sehingga ketiganya ini berjalan secara simultan sebagai kekuatan dalam menciptakan destinasi yang bersih dan asri”, pungkas Puspa Negara. (L’Post)

Related Posts