September 9, 2026
BALI

BLDF Hadirkan Living Laboratory Mangrove di Bali, Akademisi UNUD: Monitoring itu Penting Pasca Penanaman

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menyelenggarakan Green Action Mangrove Bali 2026 melalui gerakan penanaman 5.000 bibit mangrove di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Rabu (2/9). Kegiatan ini sekaligus pengenalan fasilitas Living Laboratory Mangrove dalam upaya menjaga ekosistem pesisir khususnya di Bali.

Penanaman mangrove oleh mahasiswa yang tergabung dalam Darling Squad pada kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 Squad, Rabu (2/9). (Foto: BLDF/Literasipost) 

Living Laboratory Mangrove dihadirkan sebagai ruang pembelajaran lapangan yang mengintegrasikan konservasi, penelitian, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekowisata. Melalui fasilitas ini, kawasan mangrove diharapkan tidak hanya menjadi lokasi penanaman, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bersama mengenai pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Menanggapi keberadaan fasilitas tersebut, Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana (UNUD), Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga menyampaikan bahwa hal itu sangat penting. Menurutnya, adanya Living Laboratory Mangrove akan membantu dalam hal mengatasi tantangan atau persoalan yang kerap muncul pasca penanaman mangrove.

“Sebenarnya perawatan pasca penanaman itu lebih penting, biasanya instansi atau siapapun yang melakukan penanaman mangrove lebih mengutamakan kuantitas, mereka menanam dengan harapan akan tumbuh semua, padahal pesisir adalah daerah pasang surut dan mangrove belum bisa survive ketika akarnya belum settle atau mencengkram daerah sedimen”, ungkap Wiryangga Selangga dalam sesi diskusi pada kegiatan tersebut.

BACA JUGA :  BBPOM di Denpasar Amankan 73 Jenis Obat Tradisional Ilegal

Dijelaskan, butuh waktu 3 tahun bagi bibit mangrove untuk bisa settle dan butuh waktu 15 sampai 30 tahun untuk survive. Untuk itulah sangat dibutuhkan langkah-langkah evaluasi dan monitoring guna memantau kondisi bibit mangrove usai ditanam.

“Nah, BLDF yang pertama kali memperkenalkan pendekatan Living Laboratory Mangrove ini. Dengan pendekatan ini kita bisa monitoring secara bertahap setiap dua bulan sekali untuk memastikan bahwa bibit mangrove itu bisa settle dan beradaptasi dengan lingkungan hingga bisa survive, artinya ketika pasang surut kondisinya tetap sama, tidak hanyut ketika air pasang”, jelasnya. (L’Post)
mahasiswa aktif yang tergabung dalam Darling Squad

Related Posts