November 7, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Pameran Ketiga, Handy Saputra Tampilkan Karya “Art Brute” di Santrian Art Gallery

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Handy Saputra menggelar pameran tunggal yang bertajuk “The Dialogue Between The Moon and Its Halo (Cengkerama Sang Bulan dengan Sinar Sekelilingnya)” di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar. Sebanyak 23 karya lukis dan 2 karya patung dipamerkan sejak 6 November 2026 hingga 30 Desember 2026.

Kurator senin lukis, Muhammad Bundhowi dalam catatannya menyebutkan, Handy Saputra adalah seorang seniman kontemporer dan pengusaha asal Bali yang dikenal melalui karya-karyanya yang khas dalam aliran Art Brute (seni mentah) dan Outsider Art (Seni Liyan atau seni daril uar arus utama), Berbeda dengan seniman yang sepenuhnya berkecimpung di studio, Handy memadukan latar belakang di bidang manajemen bisnis dengan praktik seni visual yang sangat ekspresif dan dipelajari secara otodidak.

Seorang pengunjung sedang mengamati salah satu karya lukis Handy Saputra yang dipamerkan di Santrian Art Gallery. (Foto: Literasipost)

Karya-karya Handy seringkali menampilkan ekspresi yang liar, naluriah, dan tanpa hambatan yang merefleksikan kejujuran, tanpa pretensi atau sekatan-sekatan teknik akademis. Handy kerap memilih media yang dinamis, terutama berkarya menggunakan tinta Tiongkok yang tegas di atas kertas, cat akrilik di atas kanvas, seni cetak (termasuk sablon dan litografi), serta seni ukir kayu. Media-media ini, termasuk teknik cetak banyak muncul dalam bebrapa karyanya, termasuk dalam dua pameran tunggal terakhirnya, yaitu The Audacity of Silent Brush (2020) dan The Dragonfly’s Ripples yang menampilkan karya-karyanya yang segar dan penuh emosi. 

“Di Indonesia sendiri, fonomena senirupa Art Brute bukanlah suatu hal yang baru saja muncul. Banyak seniman yang dianggap memiliki tendensi mencipta Art Brute termasuk di antaranya Ni Nyoman Tanjung (Bali) yang ditemukan oleh seniman Bali Made Budhiana, kemudian diperkenalkan ke kancah internasional oleh antropolog asal Swiss, Georges Breguet, Kemudian Dwi Putro Mulyono atau Pak Wi (Yogyakarta) yang merupakan sosok monumental dalam dunia seni outsider (seni di luar arus utama) di Indonesia”, ungkap Muhammad Bundhowi.

Dalam pameran bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo ini, kita diajak untuk mengamati berbagai fenomena dalam visual. Handy, dalam proses kreatifnya telah bermetamorfis – dari berupaya melakukan sebuah pencarian kreatif yang personal, menuju scbuah penemuan jati diri kreatif yang lebih terbuka pada fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Di sini Handy mengajak kita bahkan untuk lebih keluar, untuk mengamati fenomena-fenomena yang terjadi dalam ranah-ranah filosofis, politis maupun psikologis. 

BACA JUGA :  Gubernur Bali Tinjau Bakal Lokasi PMI Center

Karya-karyanya yang lahir dari hasil perjalanannya ke negara Tiongkok, seperti Match Making in China bahkan membawanya untuk merespon fenomena perjodohan yang ironis dan melankolis yang syarat dengan refleksi kehidupan di negara ini. Karya Two Men and A Dog, memaparkan kita pada sebuah situasi psikologis hasil dari kehidupan sosial yang sunyi. Patung porselin berjudul The Weigh of the Bird dan The Vigil of Crimson Spirit mengajak kita untuk lebih berpikir kontemplatif dan filosofis tentang peranan pikiran (kesadaran) kita yang disimbolkannya dalam bentuk seekor burung yang seharusnya menjadi simbol dari kebebasan dan kesadaran jiwa.

Sementara itu Handy Saputra menyampaikan tidak ada perbedaan antara pameran pertama hingga ketiga ini. Objeknya sama yakni figur-figur anonim, binatang dan benda-benda mistis. Bedanya hanya pada media dan pewarnaan yang cenderung lebih terang. 

“Dari melukis saya banyak menemukan hal baru, dimana sebagai pengusaha sering merasa jenuh, tapi lewat melukis bisa merasakan mood yang berbeda, misalnya rasa stres atau tidak suka saya ekspresikan ke lukisan, dulu lukisan saya cenderung warna gelap, sekarang terang yang menggambarkan rasa senang. Jadi seni itu bisa untuk mengekspresikan rasa, emosi, sedih atau bahagia. Seni itu sifatnya universal, semua bisa menjalani dan menikmati”, kata Handy Saputra. (L’Post)

(Penulis: I Gede Putu Darmawan)

Related Posts