July 30, 2021
GAYA HIDUP & TEKNOLOGI

Entil, Makanan Khas Nyepi di Wongaya Gede

LiterasiPost.com, Denpasar –
Ketupat, pasti sudah banyak orang yang mengenalnya. Tapi, bagaimana dengan Entil? Makanan yang satu ini mirip ketupat, dan hanya ada di beberapa daerah di Pulau Bali.

Tak mudah mendapatkan Entil. Pasalnya, makanan ini biasanya dibuat hanya saat momen tertentu, salah satunya Hari Raya Nyepi. Seperti dijumpai di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

BACA JUGA :  600 Ribu Penduduk Bali Telah Terima Vaksin Covid-19 Tahap Pertama, Termasuk Pekerja Perbankan

Bagi masyarakat yang berada di lembah Gunung Batukaru tersebut, Hari Raya Nyepi memang identik dengan Entil, selain pawai Ogoh-ogoh pada hari Pangerupukan (sehari sebelum Nyepi) seperti daerah lain di Bali pada umumnya.

Entil dibuat dari beras dibungkus daun yang konon hanya ada di wilayah desa setempat, yaitu daun telengidi. Daun ini membuat Entil menjadi berwarna hijau. Rasanya pun menjadi lebih enak dan khas. Entil akan lebih nikmati jika dipadu dengan Timbungan (sejenis daging dan sayur berkuah).

BACA JUGA :  Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Vaksinasi Drive Thru di Bali

Proses memasak Entil membutuhkan waktu 2-3 jam. Dengan begitu, Entil mampu tahan beberapa hari. Warga setempat biasanya membuat Entil pada pagi hari saat hari Pangerupukan, karena pada saat Hari Nyepi tidak boleh menyalakan api (Amati Geni, salah satu pantangan saat Nyepi). Lalu, Entil dinikmati bersama keluarga pada hari Nyepi.

Tradisi membuat Entil juga dilakukan oleh warga Desa Wongaya Gede yang berada di perantauan. Seperti keluarga Gede Kusuma Wijaya di wilayah Sanur, Kota Denpasar.

Sang istri, Wayan Sartini membuat Entil menggunakan bahan baku yang diambil khusus di Desa Wongaya Gede.

BACA JUGA :  Take Authentic Japanese Cuisine Buka Kembali

“Setiap Nyepi kami selalu membuat Entil, bahan baku seperti daun telengedi, kami ambil di Wongaya,” kata Sartini, Sabtu (13/3/2021).

Sartini menambahkan, membuat Entil menjelang Hari Raya Nyepi adalah salah satu tradisi yang harus dilestarikan.

“Entil ini salah satu identitas kami dari Wongaya Gede. Membuat Entil sekaligus mengobati rasa rindu kami dengan kampung halaman,” pungkasnya. (igp)

Related Posts