September 26, 2023
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Gelar Pameran di Sanur, Komunitas Maha Rupa Batukaru Bawa “Pesan dari Barat”

LITERASIPOST.COM, DENPASAR | Sebanyak 27 perupa dari Kabupaten Tabanan yang tergabung dalam Komunitas Maha Rupa Batukaru, untuk kali pertama menggelar pameran di luar wilayah komunitasnya. Dengan tajuk “Pesan dari Barat”, pameran akan diadakan di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan No. 47 Sanur, Denpasar, pada 15 September 2023 hingga 31 Oktober 2023. Rencananya, pameran seni rupa berupa lukisan dan patung ini dibuka oleh I Gusti Ngurah Agung Diatmika, SH yang merupakan Ketua KAGAMA Bali, pecinta seni dan juga notaris.

Para seniman dalam Komunitas Maha Rupa Batukaru ini, di antaranya Wayan Sunadi “Doel”, Nyoman Wijaya, Wayan Santrayana, Kadek Dedy Sumantra Yasa, Nyoman Aptika, Made Gunawan, Ketut Boping Suryadi, Made Astika, Putu Suhartawan, Wayan Suastama, Putu Adi Sweca, Made Kenak DA, Ketut Mastrum, Ketut Suadnyana, Made Wahyu Senayadi, Wayan Naya, Nyoman Ari Winata, IG Nyoman Winartha, Luh Gede Widiya, Wayan Susana, Wayan Sukarma, IG Putu Yogi Jana P, Made Sutarjaya, Komang Kanta, Made Subrata, Ketut Murtayasa, dan Luh Gde Fridayani.

Para seniman dari Komunitas Maha Rupa Batukaru. (Foto: Literasipost)

Ketua Komunitas, Nyoman Wijaya menyampaikan tema “Pesan dari Barat” tak lepas dan latar belakang berdirinya Komunitas Maha Rupa Batukaru yang ingin menciptakan wadah dan kendaraan untuk bisa bergerak lebih maju dan lebih cepat dalam memasuki ruang-ruang apresiasi dan pasar yang lebih luas. Tak hanya itu, komunitas ini dibangun sebagai ruang interaksi dari masing-masing anggota untuk menumbuhkan suasana diskusi dalam rangka menemukan ide-ide baru dalam berkesenian.

“Barat di sini, kami artikan sebagai posisi kami secara geografis berada di bagian barat sentra seni rupa Bali. Harapan kami, Pesan dan Barat ini tidak hanya berlaku pada anggota komunitas kami, namun menjadi inspirasi bagi komunitas di Bali lainnya, yang pada akhirnya akan memberi dampak positif bagi perkembangan senirupa Bali,” ujar Nyoman Wijaya saat jumpa pers di Santrian Art Gallery, Kamis (14/9/2023) yang dipandu langsung oleh Made ‘Dolar’ Astawa selaku Pengelola Santrian Art Gallery.

Salah satu anggota Komunitas Maha Rupa Batukaru dan karyanya. (Foto: Literasipost)

Lanjutnya, sebagai daerah agraris dan lumbung padinya Bali, Tabanan banyak melahirkan maestro di bidang seni. Ada penari legendaris Ketut Maria (Mario), pematung terkenal Nyoman Nuarta, sastrawan kawakan Gusti Putu Wijaya, perupa mendunia Made Wianta dan sebagainya. Kiprah berkesenian para maestro tersebut juga menjadi inspirasi bagi Komunitas Maha Rupa Batukaru untuk mengembangkan senirupa. “Para maestro senirupa ini kami jadikan pijakan dalam mempertahankan semangat berkarya dan menjadikan contoh nyata bahwa alam dan geografis Tabanan yang agraris juga mampu melahirkan seniman-seniman hebat,” jelasnya.

“Keberadaan komunitas ini agar kita bisa berbagi ide dan diskusi untuk membawa lukisan Tabanan ke kancah lebih luas. Tabanan sebenarnya gudangnya seniman, seperti disebutkan tadi. Nah, talenta-talenta itu ingin kita ikuti jejaknya dan diteruskan, sehingga Tabanan sebagai wilayah agraris juga nantinya dikenal bisa melahirkan maestro seni,” sambung Nyoman Subrata, anggota komunitas.

“Pada pameran kali ini kami di antaranya menyuguhkan karya yang menyiratkan isu-isu di Tabanan seperti alih fungsi lahan pertanian serta hal lainnya. Sebagai komunitas berbasis kedaerahan, kami ingin menunjukkan eksistensi bahwa ada komunitas senirupa di Tabanan,” tambah Wayan Susana selaku Wakil Komunitas.

BACA JUGA :  Tampil "Nyakcak" di PKB XLIII, Baleganjur Duta Denpasar Bawakan Tabuh Menur Tiga Sakti

Dari kacamata kurator Wayan Seriyoga Parta, bahwa karya-karya yang ditampilkan masing-masing perupa, memiliki kualitas artistik dan capaian personal yang tak diragukan lagi. Dosen PSR Universitas Negen Gorontalo ini, bahkan menilai karya-karya swniman Komunitas Maha Rupa Batukaru telah menunjukkan keragaman artistik dan nilai estetik dan representasional (realistik dan figurasi) dan non-representasional (abstrak abstraksi dan formalistik).

“Tema-temanya beragam sesuai gagasan dan pandangan dunia masing-masing perupa serta keragaman latar belakang dan akademik dan otodidak (self taught), dapat menjadi potensi yang saling melengkapi baik secara gagasan dan sensibilitas estetik,” katanya. (igp)

Related Posts