November 2, 2026
EKONOMI & PERBANKAN

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada TW I 2026

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan (TW) I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy).

Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2), dan besar (luas bangunan > 70 m2) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

BACA JUGA :  Grand Launching di Bali: Nanovest Bidik Kaum Milenial, Tawarkan Investasi Aman dan Bebas Ribet

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah. Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan. Selain itu, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor

masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut

meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang

muka pembelian rumah.

Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti

residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh

pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non bank, masing-masing sebesar

35,3%, 5,9%, dan 2,2%. Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi

terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (L’Post/r)

 

Related Posts