Panggilan Hati Lakukan Bersih-bersih Pantai Secara Konsisten

LITERASIPOST.COM – Legian | Mengawali tahun 2026, Tim WPN (Wayan Puspa Negara) bersama komunitas BumiKita kembali menggerakkan seluruh stakeholder pariwisata yang ada di Kelurahan Legian agar konsisten melakukan gerakan bersih-bersih pantai (Beach Clean Up). Kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa tercipta suatu kebiasaan atau habit semua pihak bahwa sampah harus diperlakukan dengan baik atau bijaksana.
“Terutama sampah di destinasi seperti ini, untuk bisa menciptakan destinasi yang bersih, sekecil apapun langkah kita akan sangat bermakna karena hal ini bisa menjadi Snowball atau bola salju untuk meng-impact orang lain untuk turut serta dalam kegiatan bersih-bersih ini”, ujar Puspa Negara.
Faktanya, kata Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung ini, kegiatan bersih-bersih di Pantai Legian setiap hari Jumat selalu diikuti oleh peserta yang cukup banyak sehingga kebersihan bisa tercipta. Terlebih, pasca perayaan tahun baru, sampah dari bekas perayaan seperti kembang api tampak berserakan di area pantai. Untuk itulah dilakukan upaya pembersihan bersama seluruh peserta kerja bakti dan juga tim DLHK Kabupaten Badung menggunakan mesin barberik.
“Kegiatan ini selain konsisten kita lakukan, juga menunjukkan bahwa bersih-bersih pantai adalah tanggung jawab kita semua. Partisipasi aktif masyarakat, stakeholder, merupakan energi yang baik bagi kita untuk secara berkelanjutan menjaga destinasi ini tetap bersih”, jelasnya.
Meskipun Pantai Legian tidak mengalami abrasi seperti halnya Pantai Kuta, kebersihannya harus tetap terjaga. Sekecil apapun langkah yang dilakukan merupakan langkah yang besar dalam upaya menyebarluaskan upaya-upaya untuk menjaga kebersihan.
Antisipasi Musim Angin Barat
Musim angin barat menjadi petaka bagi Pantai Legian setiap tahun. Sampah kiriman dari tengah laut akan menepi dalam jumlah yang cukup banyak dan mengotori area pantai setiap harinya.
Puspa Negara mengatakan puncak musim ini diperkirakan terjadi pada akhir Januari 2026 sesuai info BMKG adanya badai S93 di Samudra Hindia. Kegiatan bersih-bersih ini menjadi warming up atau pemanasan untuk bersiap, yakni ketika nanti sampah kiriman datang agar semua bahu membahu untuk membersihkannya dengan cepat.
“Intinya adalah kecepatan membersihkan meskipun kita sadari tenaga yang banyak saja tidak cukup, teknologi yang ada saat ini saja tidak cukup, kita membutuhkan teknologi lain, namun apapun itu gerak semangat bersama dalam upaya untuk menjaga pantai ini menjadi penting dan ini harus ada effort. Artinya, mari kita ciptakan effort pergerakan dan kebersamaan dalam membersihkan pantai ini, sekecil apapun sampah dan sebanyak apapun sampah bukanlah alasan tetapi mari kita bergerak bersama untuk membersihkan sampah, tiada kata lelah berjuang untuk melawan sampah”, ucap Puspa Negara.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, volume sampah kiriman pada musim angin barat bisa mencapai 200 ton per hari. Sedangkan pada kondisi biasa rata-rata 10 sampai 15 ton. Dikatakan, penanganan sampah di pantai sebenarnya menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
“Kita tidak bicara soal itu, tetapi, kita bicara tanggung jawab. Tanggung jawab siapa? Semua pihak, termasuk masyarakat, kita terpanggil untuk melakukan kegiatan bersih-bersih ini karena memang merupakan tanggung jawab kita bersama. Jadi, semakin banyak yang terpanggil menjadi semakin baik sehingga destinasi kita akan selalu bersih”, pungkasnya. (L’Post)














