Sebaran Elang Jawa Jangkau Bali, Strategi Konservasi Dikuatkan

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Komunitas pegiat elang dan pemerintah telah bersepakat mengenai keberadaan Elang Jawa di Bali. Namun, pengetahuan tentang Elang Jawa di Bali masih terbatas sehingga ke depan perlu banyak perhatian, baik dari upaya penelitian maupun upaya pelestarian.
Keterbatasan pengetahuan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan penelitian dan informasi sebagai dasar pengambilan langkah konservasi yang tepat. “Penguatan ini diharapkan dapat mendukung upaya pelestarian Elang Jawa dan habitatnya di Bali”, ujar Anggota Tim Penyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa dari PILI Green Network, Iwan Setiawan pada acara Konsultasi Publik Penyusunan SRAK Elang Jawa Periode 2026-2036 yang berlangsung di Bali, Jumat (21/8).
Konsultasi publik di Bali menjadi salah satu tahapan penting untuk memastikan strategi dan rencana aksi yang disusun dapat menjawab kebutuhan konservasi Elang Jawa di berbagai wilayah.
Konsultasi publik diadakan oleh Kementerian Kehutanan bersama para mitra konservasi yang tergabung dalam kolaborasi multipihak Lacak Jejak Elang Jawa, yaitu Burung Indonesia, Raptor Indonesia (RAIN), PILI Green Network, dan PT Djarum. Tujuannya untuk menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap draft SRAK serta membahas peran para pihak dalam pelaksanaan konservasi Elang Jawa selama sepuluh tahun mendatang.
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari Bali dan Jawa Timur, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, sektor usaha, organisasi masyarakat sipil, pengamat burung, dan pegiat konservasi. Konsultasi publik di Bali merupakan bagian dari rangkaian konsultasi yang dilaksanakan di tiga wilayah utama untuk menjangkau berbagai wilayah sebaran Elang Jawa. Tahap ini dilakukan untuk memvalidasi substansi draft SRAK, mulai dari isu prioritas, target konservasi, strategi, hingga rencana aksi, sekaligus memastikan implementasinya sesuai kondisi dan kebutuhan konservasi di tingkat regional.
Ada sesi presentasi dan diskusi yang menghadirkan perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Prof. Luh Putu Eswaryanti K.Y., Ph.D. dari Universitas Udayana, perwakilan PT Djarum, serta Iwan Setiawan dari PILI/RAIN. Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD). Peserta membahas matriks strategi dan rencana aksi secara lebih rinci, termasuk target, indikator kinerja, serta pembagian peran para pihak dalam pelaksanaan konservasi.
Keterlibatan lintas sektor dalam hal ini karena pelaksanaan konservasi Elang Jawa mencakup berbagai aspek, mulai dari perlindungan spesies dan habitat, penelitian, tata ruang, hingga penguatan aksi konservasi di tingkat tapak.
Selain diskusi, kegiatan juga menghadirkan pameran foto Elang Jawa, yang menampilkan berbagai informasi mengenai upaya pelestarian Elang Jawa, mulai dari survei populasi dan habitat di berbagai kawasan hutan Pulau Jawa hingga penyusunan SRAK. Seluruh masukan dari konsultasi publik akan dihimpun sebagai rekomendasi untuk menyempurnakan draft SRAK Elang Jawa 2026–2036. Masukan tersebut juga akan dituangkan dalam berita acara serta matriks perbaikan dokumen, termasuk pembagian peran dan kontribusi para pihak dalam implementasi SRAK.

Acara Talk Show dan Nonton Bareng Elang Jawa yang berlangsung di Denpasar, Sabtu (22/8). (Foto: Literasipost)
Setelah seluruh masukan dari rangkaian konsultasi publik diintegrasikan, draft SRAK akan disempurnakan untuk kemudian ditetapkan sebagai acuan konservasi Elang Jawa selama periode 2026–2036.
Terkait kegiatan tersebut juga diadakan side event Talk Show dan Nonton Bareng Elang Jawa yang berlangsung di Denpasar, Sabtu (22/8), yang dihadiri oleh komunitas, Siswa Pecinta Alam (Sispala) serta mahasiswa. Sesi talkshow menghadirkan pembicara Tim penyusun SRAK Elang Jawa, Tedi Setiadi; Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Josephine Laura Sutanto; Anggota BSC Curik, Gde Oka Widiyavedanta; dan Anggota Satwa Alam Bali, Deny Rahmadani. (L’Post)














