January 30, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Temu Budaya Subak di Bali: Upaya Penguatan hingga Susun Roadmap Subak Spirit

LITERASIPOST.COM – DENPASAR | Kementerian Kebudayaan RI melaksanakan Temu Budaya Subak bertempat di aula Pasca Sarjana Universitas Udayana (UNUD), Denpasar, Senin (11/11/2024). Kegiatan ini merupakan rangakaian Subak Spirit Festival yang berlangsung pada 9-10 November 2024 di Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. 

Temu Budaya Subak menjadi ajang presentasi keberhasilan pertanian di Bali dan dialog oleh para pemangku kepentingan dalam merespon isu-isu Subak, khususnya para praktisi pertanian (kegiatan dan capaian di bidang pertanian), praktisi pariwisata dan agrowisata (peran Subak dalam pariwisata), dan akademisi (penjelasan kuantitatif terkait potensi pertanian bagi pariwisata).

BACA JUGA :  Solia Legian Bali Hotel Peduli Masyarakat Kurang Mampu di Legian dan Karangasem

“Kegiatan Temu Budaya Subak ini bertujuan 1) Mengaktivasi ekosistem kebudayaan dari Sistem Subak, Pertanian Tradisional, dan Warisan Budaya berikut OPK dari serial lima lokasi situs warisan budaya dunia yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun, 2) Memetakan praktik-praktik baik konservasi alam dan sumber air, safeguarding Sistem Subak, preservasi pertanian tradisional yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dan pelindungan warisan budaya berikut pemajuan kebudayaan, 3) Memetakan potensi pengelolaan air, pertanian, kebudayaan, dan pariwisata di Bali, serta 4) Menetapkan peta jalan Subak Spirit dalam lima tahun ke depan,” ungkap Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, SS, M.SP.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber di antaranya Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Ketua PHRI Bali) sekaligus Keynote Speaker, Gede Sedana (Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia/HKTI Bali), Moe Chiba (UNESCO), I Made Sarjana (Ketua Lab. Subak dan Agrowisata Fakultas Pertanian UNUD), dan AA Gede Agung Wedhatama (Petani Muda Keren). Turut pula hadir Rektor UNUD, Prof I Ketut Sudarsana.

BACA JUGA :  Angkut 11 Ekor Penyu Hijau di Perairan Gilimanuk, Ditpolairud Polda Bali Amankan Pelaku

Disebutkan, Inskripsi Warisan Dunia UNESCO untuk Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (2012) merupakan pengakuan internasional untuk Sistem Subak sebagai warisan adiluhung Leluhur Bali dalam membangun ekosistem Pulau Bali dan mengelola sumber air untuk mengolah tanah bagi pertanian padi. Warisan budaya dunia ini tersusun sebagai serial lima lokasi situs, yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun. Interaksi Manusia dan Lingkungan di Pulau Bali ini diwakili oleh lima lokasi situs tersebut melalui kombinasi lanskap sawah terasering, aliran irigasi bersama bendungan dan terowongan yang dikombinasikan dengan danau dan sungai serta mata air sebagai sumber pasokan air, hutan yang menyediakan air, pura, pura air, tempat suci, dan desa, bersama dengan proses tradisional sistem subak yang terkait dengan prinsip filosofis Tri Hita Karana yang memberikan respon sosial dan ekologis yang berkelanjutan.

Sistem Subak dan Pertanian Tradisional di Bali saat ini menghadapi keterancaman terkait kerusakan sumber air dan berkurangnya pasokan air irigasi, alih fungsi dan kepemilikan lahan dan berkurangnya kesuburan tanah, kelemahan profesi petani pemakai air dan berkurangnya tenaga kerja produktif serta regenerasi anggota subak, dan kekurangan nilai ekonomis produk pertanian padi serta jaringan ekonomi subak, serta tekanan lingkungan alam dan risiko kebencanaan Pulau Bali. Tata kelola dan sistem manajemen Warisan Dunia UNESCO di Bali ini memerlukan upaya penguatan terhadap kelembagaan dan mekanisme pengelolaan warisan budaya dunia, yaitu Dewan Pengelola Warisan Budaya Bali dan Forum Koordinasi Pengelolaan Warisan Dunia Lanskap Budaya Provinsi Bali yang didirikan oleh Gubernur Bali. Semenjak dijanjikan efektif menyambut Inskripsi Warisan Dunia (2012), lembaga dan forum ini belum dapat mewujudkan efektifnya pembangunan lintas sektor dan antar wilayah di Provinsi Bali dalam menjamin keterlindungan dan keterkelolaan lima lokasi situs komponen yang menjadi serial warisan budaya dunia.

BACA JUGA :  HARRIS Hotel Denpasar Gelar “Yoga by the Pool”

Sistem Subak dari lanskap budaya Pulau Bali memerlukan agenda pelestarian, berkenaan ketersediaan air tanah (sumber air: mata air, danau, sungai; dan kebutuhan: rumah-tangga, pertanian, usaha dan industri; serta keberadaan gunung dan hutan), dan keberlangsungan pertanian tradisional yang ramah lingkungan (pertanian padi, lahan sawah berteras, sistem irigasi), serta keberlanjutan subak (parahyangan, pawongan, dan palemahan) yang berelasi dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Penguatan Ekosistem Subak melalui platform Subak Spirit merupakan salah satu program unggulan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan pada tahun 2024. Penguatan Ekosistem Kebudayaan ini merencanakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung implementasi Rencana Pengelolaan termasuk penegasan rencana aksi dalam pemanfaatan dan pelestariannya melalui beragam aktivitas, salah satunya adalah Temu Budaya Subak. 

“Kegiatan ini sangat bagus dan memang ada kerja sama antara Dirjen Kebudayaan dengan kami (Unit Subak UNUD) untuk melakukan semacam pemetaan ekosistem Subak, apa kendala, apa permasalahan yang ada di Subak itu sendiri, dan selanjutnya dibuatkan program-program kegiatan atau aktivasi dalam upaya untuk mempertahankan dan melestarikan Subak, tentunya yang diutamakan adalah Subak yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia, yaitu di Jatiluwih, Caturangga Batukaru, dan DAS Pakerisan,” ujar Prof. Dr. Ir. I Ketut Suamba, MP selaku Ketua Unit Subak Bidang Sosial Ekonomi UNUD. (IGP)

Related Posts