Melemah dan Dilemahkan! Puspa Negara: Pariwisata Bali Bergerak ala Bom Bom Car, Disparda ke Mana?

LITERASIPOST.COM- Badung | Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara mengungkapkan perjalanan pariwisata Bali di tahun 2025 penuh fatamorgana dan dilema. Semua terlena dengan jargon Quality Tourism, Quality Destination, tapi tidak berbuat apa-apa.
Bagaimana Bali bisa bersaing? Sementara formula untuk menata Bali dari persoalan utama seperti sampah, kemacetan, banjir, tata ruang yang amburadul, jaringan utilitas semrawut, kriminalitas meningkat, hingga lingkungan yang terdegradasi, tidak ada gerakan spektakuler atau fundamental dalam melakukan problem solving atas situasi tersebut.
“Sepertinya Bali bergerak auto pilot dan ala Bom Bom Car, tak ada lintasan, tak ada klakson, tak ada roda, tak ada kendali yang presisi, dan selalu bertubrukan”, ungkap Puspa Negara.
Lanjutnya, kehadiran wisatawan domestik dipengujung tahun yang biasanya hingar bingar mulai pertengahan Desember, kini terasa sepi, padahal musim peak season. Apa yang salah? Pihaknya mencoba memberikan analisa dan tawaran solusi sebagai berikut:
Bahwa, negara-negara yang pariwisatanya tumbuh maju, memperkuat 4 pilar dasar untuk terciptanya sustainable tourism development (pembangunan pariwisata yang berkelanjutan). Empat pilar dasar itu adalah Facilities, Safety, Service, Environment, dan Promotion (tambahan).
▪️Facilities, atau fasilitas yang meliputi infrastruktur, sarana prasarana, dan utilitas yang seharusnya terbangun berskala dunia (world class infrastructure) seperti jalan yang mulus dan lancar, pedestrian yang nyaman dan ramah, jaringan utilitas udara yang tertanam di dalam tanah, pengelolaan sampah yang mantap, saluran air, listrik, gas, telepon, wifi, hingga limbah dan air kotor tertata aman serta akomodasi, transportasi hingga aksesibilitas yang mudah dan efisien. “Hal ini di Bali khususnya Kabupaten Badung nyaris tak ada perkembangan berarti”, ungkapnya.
▪️Safety & Security, keamanan dan kenyamanan wisatawan sangat sering terganggu karena tingginya aksi kriminalitas serta pelanggaran norma dan etika, serta gangguan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat yang sering terjadi. Aksi prilaku buruk wisatawan mancanegara (Wisman), sistem transportasi yang buruk, memperparah kondisi keamanan dan kenyamanan. Hal ini harus segera ditangani dengan pola pengamanan destinasi yang profesional, penegakan aturan/lawenforcement yang tegas, stabil, dan berkelanjutan.
▪️Service/Hospitality atau pelayanan, bahwa muncul sindiran tentang perbedaan perlakuan kepada Wisdom dan Wisman, daya ramah yang mulai tereduksi hingga senyum yang tidak ikhlas, menjadi hal yang melemahkan pelayanan secara umum.
▪️Environment atau lingkungan yang terjaga kualitas dan keberlanjutanya. Lingkungan kita mengalami penurunan performa dengan tingginya alih fungsi lahan, berkurangnya bidang resapan, hingga kacaunya tata ruang menjadikan ketidakteraturan dan kesemrawutan, banjir, bahkan sampah tak terkelola dengan baik.
▪️Promosi, pariwisata tanpa promosi adalan nonsense. Pariwisata harus terus dikabarkan secara stabil periodik dan berkelanjutan. Pariwisata tanpa promosi dipastikan lunglai seperti apa yang terjadi saat ini, bahwa public relation/kehumasan kita tentang pariwisata/eksistensi Bali tidak menggema alias sangat lemah, tidak bergerak alias diam, unit teknis Dinas Pariwisata, stakeholdernya seperti BTB, BPPD, seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Sepanjang tahun 2025 nyaris tak ada promosi sana sekali, baik di dalam maupun luar negeri, unit teknis Disparda ketakutan dengan Perpres No 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi. Padahal, sebagai destinasi pariwisata promosi wajib dilaksanakan.
“Kenapa Dinas Pariwisata tidak berani menganggarkan untuk promosi? Padahal, itu tupoksi premium mereka. Apakah mereka tak punya kapasitas dalam berpromosi sehingga menyerah tanpa berinovasi? Anggarannya pun mereka hilangkan sendiri, sungguh tidak profesional. Harusnya promosi tetap dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab”, tegasnya.
Pemprov Bali dan Pemkab Badung seharusnya tetap rajin mengikuti promosi wisata dunia yang terbesar dengan selektif, seperti apa yang pernah rutin dilakukan pada tahun-tahun sebelumya. Apa pentingnya berpromosi di pameran pariwisata dunia yang besar? Promosi yang diperkuat dengan Touchable & Aproachement (sentuhan dan pendekatan) kepada negara-negara kontributor Wisman akan memberi dampak psikologis positif yang tinggi karena akan terjalin kerja sama dalam memberi pelayanan, pengayoman dan perlindungan bagi warga negaranya ketika menjadi turis di Bali. Artinya, promosi bisa memperkuat hubungan kemitraan dan kepercayaan yang memunculkan kenyamanan untuk terus berkunjung.
“Oleh karena itu, saya menyarankan Pemerintah Provinsi/Gubernur & Bupati Badung untuk introspeksi dan berbenah segera disegala sektor termasuk wajib mengikuti promosi wisata premium dunia seperti pameran pariwisata internasional di Berlin, yang dikenal sebagai Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin, biasanya dilaksanakan pada bulan Maret setiap tahunnya. ITB Berlin merupakan pameran perdagangan pariwisata terbesar di dunia dan selalu diselenggarakan di Messe Berlin. Dahulu Bali selalu ikut”, tegasnya kembali.
Selanjutnya World Travel Market (WTM) London biasanya diadakan setiap tahun pada bulan November, seringkali di awal bulan, seperti pada tanggal 4-6 November 2025, sebagai acara utama untuk industri perjalanan global.
Kemudian pasar Australia digenjot via menghadiri acara travel expo di Sydney yang bervariasi, untuk tahun 2025, ada Klook Travel Fest 2025 pada 8-9 November di Sydney Showground (tiket gratis). Selain itu, ada juga acara seperti Snow Travel Expo Sydney (Mei 2025), FACTS (November 2025, untuk travel korporat), dan The Travel Industry Exhibition (Agustus 2025). Hal ini harus dilakukan secara konsisten seperti halnya Thailand, Vietnam, Malaysia & Philipina yang rutin hadir di acara ini. (L’Post/r)














