Indeks Penjualan Ritel Bali 124,3: Stimulus Pemerintah dan Momentum HBKN Dukung Optimisme Pelaku Usaha

LITERASIPOST.COM -Denpasar | Penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan Februari 2026 masih terus bertumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,3 atau secara tahunan tumbuh 6,4% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Meski demikian, IPR Bali secara bulanan melambat sebesar 0,1% (mtm) seiring dengan periode low season wisatawan.
Selain karena dampak musiman setelah libur tahun baru pada Januari 2026, terdapat periode puasa dan lebaran yang mendorong wisatawan domestik untuk memilih destinasi liburan ke kampung halaman selain Bali.
Dari sisi masyarakat Bali, pelaku usaha melihat adanya kecenderungan masyarakat untuk menahan pengeluaran di bulan Februari sebagai langkah persiapan dana lebih untuk HBKN pada bulan Maret.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk
memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Berdasarkan komponen pembentuknya, 5 (lima) sub sektor pembentuk IPR dengan pertumbuhan bulanan
tertinggi pada kategori Peralatan Informasi dan Komunikasi dengan penurunan sebesar 2,8% (mtm);
Sandang dengan penurunan sebesar 2,4% (mtm); Suku Cadang dan Aksesori dengan penurunan sebesar
1,7% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan penurunan sebesar 1,6% (mtm); serta Makanan,
Minuman dan Tembakau dengan penurunan sebesar 0,2% (mtm). Data Angkasapura menunjukkan
penurunan wisatawan domestik sebesar 15% (mtm), di mana faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
laju kunjungan wisatawan domestik yaitu adanya periode Ramadan dan musim mudik.
Meskipun terjadi efek penurunan akibat faktor musiman, pelaku usaha masih memiliki optimisme kinerja
ritel di masa depan. Hal tersebut terlihat dari data Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha
(LU) Perdagangan per Januari 2026 dengan pertumbuhan sebesar 1,83% (yoy), lebih tinggi dari Desember
2025 sebesar 1,44% (yoy). Kinerja IPR di Bali yang bertumbuh menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat
di Bali masih dalam tren positif. Selaras dengan pertumbuhan kredit, prospek penjualan ritel di Bali yang
tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) diperkirakan meningkat. IEP menggambarkan keyakinan
pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden
memperkirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP April 2026 sebesar 170, lebih tinggi dari
IEP Maret 2026 sebesar 126. Di sisi lain, prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada Juli
2026 sebesar 184, sama seperti IEP Juni 2026. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100).
Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga
kebijakan di bulan Februari 2026. Dari sisi fiskal, Pemerintah turut menggelontorkan insentif promo tiket
kapal laut dan pesawat untuk mendukung geliat perekonomian masyarakat. Lebih lanjut, Tim Pengendalian
Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang libur Nyepi dan
Idulfitri untuk komoditas strategis.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya
untuk menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian
Bali tetap tumbuh berkelanjutan.














