April 16, 2026
GAYA HIDUP & TEKNOLOGI

Mengenal Rinitis Alergi

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Rinitis alergi atau sering dikenal dengan pilek alergi, merupakan suatu kondisi terjadinya inflamasi pada membran mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama dan diperantarai oleh IgE.

Rinitis ditemukan di semua ras manusia, pada anak-anak lebih sering terjadi terutama anak laki-laki. Memasuki usia dewasa, prevalensi laki-laki dan perempuan sama. Insidensi tertinggi terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dengan rerata pada usia 8-11 tahun, sekitar 80% kasus rinitis alergi berkembang mulai dari usia 20 tahun. Insidensi rinitis alergi pada anak-anak 40% dan menurun sejalan dengan usia sehingga pada usia tua rinitis alergi jarang ditemukan.

BACA JUGA :  Sambut Bali Reborn, Kemenkes Lakukan Monev Kesiapan RSUP Sanglah

Adapun bahan alergen yang kerap kali menyebabkan terjadinya reaksi alergi yakni: debu rumah, tungau debu rumah, serpihan kulit binatang, jamur, kecoa, serbuk sari tanaman, pohon dan rumput liar. Penyebab non spesifik contohnya iklim, hormonal, psikis, infeksi, dan iritasi.

Keluhan yang dirasakan antara lain keluarnya ingus encer dari hidung (rinorea), bersin, hidung tersumbat dan rasa gatal pada hidung (trias alergi). Bersin merupakan gejala khas, biasanya terjadi berulang, terutama pada pagi hari. Bersin lebih dari lima kali sudah dianggap patologik dan perlu dicurigai adanya rinitis alergi dan ini menandakan reaksi alergi fase cepat. Gejala lain berupa mata gatal dan banyak air mata.

Selain keluhan di atas, terdapat juga beberapa tanda khas yang biasanya ditemukan pada orang yang mengalami rinitis alergi, yaitu: 

▪️Allergic salute, yaitu gerakan pasien menggosok hidung dengan tangannya karena gatal. 

▪️Allergic shiners yaitu lingkaran gelap di sekitar mata dan berhubungan dengan sumbatan hidung. 

▪️Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan.

▪️Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies adenoid)

BACA JUGA :  Luncurkan Program Bali Bangkit, BPR Lestari Sediakan Dana Kredit Rp1,2 Triliun

Menurut World Health Organization- Allergic Rinitis and its Impact on Asthma (WHO-ARIA), berdasarkan sifat berlangsungnya, rinitis alergi dibagi menjadi 2, yakni 

1. rinitis alergi intermiten (gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu)

2. rinitis alergi persisten (gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu).

Berdasarkan tingkat keparahannya, rinitis alergi dibagi menjadi 2, yakni rinitis alergi ringan dan rinitis alergi sedang-berat. Pasien dikategorikan pada rinitis alergi sedang berat bila mengganggu satu atau lebih dari aktivitas tidur, aktivitas harian, berolahraga, belajar, bekerja, dan bersantai.

Tatalaksana untuk rinitis alergi perlu melihat dari diagnosis dan klasifikasinya. Tatalaksana yang paling pertama adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab reaksi alergi. Selanjutnya melakukan pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani yang telah diketahui berkhasiat dalam menurunkan gejala alergi. Selain itu, tindakan cuci hidung dengan cairan Saline atau Nacl 0,9% juga direkomendasikan. Terapi obat dapat diberikan selama 2‐4 minggu, yang akan dievaluasi ulang ada atau tidak adanya respon. Obat yang direkomendasikan yaitu Antihistamin atau antialergi oral, decongestan, dan semprot hidung yang mengandung kortikosteroid atau anti peradangan. 

BACA JUGA :  Rayakan Idul Adha 1446 H, LDII Bali "Ngejot" Daging Kurban

Apabila kejadian rinitis terus berulang atau mengalami rekurensi berulang, maka rinitis alergi lama-kelamaan akan bersifat kronis dan juga menyebabkan beberapa komplikasi yang tentunya dapat mengurangi kualitas hidup dari penderita karena akan mengganggu kegiatan sehari-hari 

Dengan langkah-langkah tatalaksana yang sesuai dan tepat, rinitis alergi dapat ditangani dengan baik. Langkah penting yang harus diperhatikan dalam mencegah terjadinya kekambuhan dari rinitis alergi ini sendiri adalah dengan menghindari atau menghilangkan alergen yang dapat memicu terjadinya reaksi inflamasi yang juga diimbangi dengan tatalaksana farmakologis yang tepat. (L’Post/r)

Referensi:

Effiaty A, Iskandar N, Bashiruddin J dan Dwi R. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas lndonesia; 2011. 

Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Jakarta: Kementrian Kesehatan; 2022. 

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J dan Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2016.

Indah K, Isabela I, Syalwa M, Putu R, Rani H. Rhinitis Alergi: Etiologi, Patofisiologi, Diagnosis dan Tatalaksana. Lampung: Medula; 2023

**Ditulis oleh: dr. I Kadek Adi Raditiya Putra

Related Posts