November 5, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Himpunan Perupa Payangan Tampilkan Karyanya di Santrian Art Gallery

LITERASIPOST.COM – Denpasar | Himpunan Perupa Payangan menggelar pameran kolektif yang bertajuk “Udhar Banda Karma” di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar. Pameran dibuka oleh Bupati Gianyar yang diwakili oleh Wakil Bupati, AA Gde Mayun, Jumat (18/9), dan akan berlangsung hingga 31 Oktober 2026.

Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made Dolar Astawa dalam sambutannya menyampaikan bahwa perjalanan pameran ini adalah salah satu tonggak sejarah terpenting bagi komunitas Perupa Payangan. Jika sebelumnya di Ubud berfokus menyalakan energi internal lewat filosofi Bayu-Idep-Karma, maka di Sanur memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh. Kelompoknya mencoba melakukan laku Udhar Banda Karma – sebuah upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa yang lebih terbuka. 

Salah seorang seniman dari Himpunan Perupa Payangan dengan karyanya yang berjudul Dewi Saraswati. (Foto: Literasipost)

“Di ruang pameran ini, tersaji 38 karya dari 18 perupa yang merangkum keberagaman karakter kami; mulai dari lukisan yang setia menjaga nyala api tradisi, perkawinan estetika modern, pelepasan menuju dunia abstrak, hingga dinamika seni patung yang bergerak dinamis. Keberagaman ini adalah kekuatan kami sebagai sebuah keluarga besar”, ungkapnya. 

Owner Santrian Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra mengemukakan bahwa sebuah kehormatan besar bagi Santrian Art Gallery dapat menjadi ruang presentasi bagi pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan. Sanur dan Payangan mungkin dipisahkan oleh jarak geografis antara pegunungan yang sejuk dan pesisir yang dinamis. Namun, melalui seni rupa, menjadi pertemuan yang indah antara dua karakter kultural tersebut. 

Sanur sejak awal abad ke-20 telah menjadi ruang hibriditas dan keterbukaan seni rupa modern. Kini menjadi saksi bagaimana para perupa Payangan melakukan laku Udhar – mengurai, melonggarkan, dan membebaskan kreativitas mereka dari keterikatan pakem tradisional. 

BACA JUGA :  Sambut Wisman, Sebelas Hotel di The Nusa Dua Jadi Tempat Karantina

“Kami melihat pameran ini bukan sekadar pajangan karya lukis dan patung, melainkan sebuah dialog kritis yang matang. Himpunan Perupa Payangan menunjukkan kepada kita bahwa merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman”, ucapnya.

Bupati Gianyar lewat Wakil Bupati AA Gde Mayun menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya pameran ini. Dikatakan, selama ini, para perupa Payangan telah menjadi penjaga gawang kebudayaan Gianyar yang kokoh melalui dedikasi mereka pada seni lukis dan seni patung tradisional. Langkah Himpunan Perupa Payangan untuk “melompat keluar” melintasi batas geografis Gianyar menuju pesisir Sanur melalui tema Udhar Banda Karma adalah sebuah keputusan yang berani dan visioner. 

“Ini adalah bukti nyata bahwa seniman kita tidak pernah statis. Mereka mampu mengurai belenggu pakem tanpa kehilangan jati diri, serta siap mendialogkan capaian estetiknya di panggung yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Gianyar akan selalu mendukung inisiasi kolektif yang menghidupkan ekosistem seni rupa kita. Semoga pameran ini menjadi pemantik inspirasi bagi generasi muda, memperkuat jejaring seni rupa Bali, dan membawa berkah serta Karma baik bagi kita semua”, sebutnya.

BACA JUGA :  Apresiasi kepada Pelaku Usaha Ciptakan Habit Jaga Kebersihan Pantai Legian

Penulis pameran, I Nyoman Suardina mengatakan secara etimologis dalam bahasa Jawa Kuno, Udhar berarti mengurai atau melepas ikatan; Banda adalah belenggu atau kekangan; dan Karma adalah perbuatan atau hasil dari tindakan masa lalu. Dalam konteks pameran ini, frasa tersebut bertransformasi menjadi sebuah manifesto kuratorial yang radikal. Bagi para perupa Payangan yang tumbuh dalam ekosistem lukisan tradisional Bali, tradisi adalah Karma, sebuah warisan estetika mulia yang membentuk identitas kolektif mereka. Namun, tradisi yang diadopsi secara mentah tanpa pemaknaan baru terancam menjadi Banda (belenggu) yang memenjara subjektivitas seniman.

“Melalui pameran ini, Himpunan Perupa Payangan melakukan Udhar, melonggarkan ikatan pakem tersebut agar kanvas-kanvas mereka memiliki ruang bernapas bagi eksperimen baru. Mereka sedang membebaskan diri dari belenggu ekspektasi pasar komoditas yang sering kali menuntut seni Bali untuk selalu tampil statis dan eksotis”, katanya. (L’Post)

Related Posts