June 19, 2021
EKONOMI & PERBANKAN

Dagang Dadakan Menjamur, Forum Pengelola Pasar Desa Mengadu ke Wali Kota Denpasar

Literasipost.com, Denpasar – 
Setahun belakangan, omzet pedagang pasar desa di Kota Denpasar merosot. Kondisi tersebut dikarenakan oleh dampak pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir.

Keadaan ini juga diperparah dengan kemunculan pedagang dadakan yang menjamur di pinggir jalan baik menggunakan mobil maupun membuka lapak bongkar pasang serta ada pula berjualan di atas trotoar.

Forum Pengelola Pasar Desa di Kota Denpasar pun menyampaikan aspirasinya kepada Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, Kamis (5/5/2021). Ketua Forum, Nyoman Suarta mengatakan omzet pedagang terus merosot akibat pandemi dan banyaknya pedagang dadakan di pinggir jalan.

BACA JUGA :  Cegah Penularan Covid-19 dari Luar Negeri, Pemprov Bali Didorong Bentuk Satgas Karantina Khusus

Jenis barang yang dijajakan pedagang dadakan hampir sama dengan pedagang di pasar desa, mulai dari pisang, janur, buah-buahan, kelapa, telur, daging hingga tisu. Akhirnya, masyarakat memilih berbelanja di pinggir jalan ketimbang ke pasar desa. Bahkan beberapa pedagang di pinggir jalan ini berani menjual dagangan lebih murah.

“Masyarakat kebanyakan memilih pedagang dadakan yang jaraknya dekat dengan mereka, sehingga yang berbelanja ke pasar desa semakin menurun. Rata-rata 90 persen pedagang yang berjualan di pasar desa adalah penduduk asli setempat dan mereka hanya bergantung di sana saja, namun karena pedagang dadakan ini penghasilan mereka semakin menurun,” katanya.

Selain itu, pedagang desa juga kena retribusi dan sewa los atau kios sehingga akan semakin mengurangi penghasilan mereka. Sedangkan pedagang yang berjualan di pinggir jalan tak kena apa-apa dan melanggar ketertiban serta berbahaya bagi pengendara, pedagang maupun pembeli.

BACA JUGA :  Koperasi Perempuan Katrisma Mandiri Gelar Gebyar Produk UMKM

Beberapa juga memanfaatkan trotoar untuk berjualan dan utamanya bagi pedagang daging, sehingga kebersihan dan kesehatannya kurang terjamin.

Pihaknya meminta Pemkot Denpasar membantu mencarikan jalan keluar dari permasalahan ini. Pihaknya menawarkan solusi dan mengaku siap menampung pedagang dadakan di pinggir jalan tersebut jika akan dibawa ke pasar-pasar.

“Ada pasar yang siap menampung 30 pedagang lagi, belum lagi pasar-pasar lainnya termasuk pasar di bawah naungan Perumda Pasar. Jika mereka mau, kami siap menampung mereka,” kata Suarta.

BACA JUGA :  Peresmian Kantor OJK Regional 8 Bali Nusra, Dukung Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Jaya Negara mengatakan akan menindaklanjutinya. Pihaknya akan meminta OPD terkait melakukan pendataan terhadap pedagang dadakan yang berjualan di pinggir jalan.

“Kami akan meminta Dinas Perhubungan, Satpol PP, serta Bagian Hukum untuk melakukan pendataan,” katanya.

WalibKota mengaku tidak bisa melarang begitu saja mereka berjualan di pinggir jalan, namun juga harus mencarikan solusi.

BACA JUGA :  Suguhkan Suasana Comfortable, Bonbon Coffee and Eatery Jadi Pilihan Tepat

“Kami tidak bisa melarang begitu saja mereka berjualan, di sisi lain kami juga tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlanjut karena di samping melanggar juga berbahaya,” katanya.

Setelah melakukan pendataan nanti, pihaknya akan mengarahkan pedagang-pedagang dadakan tersebut ke pasar-pasar desa maupun pasar yang dikelola Perumda Pasar. Sehingga dengan solusi tersebut akan tercipta ketertiban dan tidak menimbulkan kecemburuan antara pedagang pasar dan pedagang dadakan.

“Jika nanti setelah dilakukan pendataan dan diarahkan berjualan ke dalam areal pasar, ternyata masih ada yang membandel berjualan di pinggir jalan, terpaksa akan ditertibkan,” tegas Wali Kota. (igp/r)

Related Posts