August 1, 2021
PENDIDIKAN

Kampus Jadul Bakal Digilas Kampus Online, Butuh Rektor “Perusak” Kampus

Dibutuhkan seorang ‘perusak’ sistem lama, kita butuh seorang CDO atau Chief Disruption Officer

LiterasiPost.com, Denpasar
Perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh dunia kini dalam bahaya. Jika tidak segera melakukan inovasi pembelajaran, maka nasibnya akan sama dengan perusahaan taksi atau ojek konvensional. Di Indonesia, dari 195 perusahan taksi, kini tersisa hanya 15 perusahaan. Sebagian besar sudah bangkrut, tergilas taksi online Uber, Grab, dan Gojek.

Peringatan itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Pusat, Dr. M. Budi Djatmiko ketika mempresentasikan tantangan perguruan tinggi di era Society 5.0 di hadapan para pejabat STIKOM Bali Group bertempat di kampus ITB STIKOM Bali, Renon, Denpasar, Senin (21/6/2021).

BACA JUGA :  Guru SMAN 1 Blahbatuh Terima Platform Media Pembelajaran Gratis dari Dosen ITB STIKOM Bali

Djatmiko memberi contoh lain di bidang perhotelan. Jaringan hotel internasional seperti JW Marriott, Hilton, dan Westin yang dibangun dangan biaya triliunan rupiah kini dikendalikan oleh marketplace Traveloka, Pegipegi, Mister Aladin dan Agoda yang mungkin hanya membutuhkan anggaran Rp1 miliar untuk pengembangan sistem aplikasinya. Tapi mereka justru menjadi pemilik ribuan hotel di seluruh dunia tanpa harus susah payah membangun hotel.

“Hasil penelitian Universitas Indonesia tahun 2016 menyebutkan hotel menerima tamu langsung hanya 4 persen. Sisanya dipasok oleh marketplace tadi,” ujarnya.

BACA JUGA :  Kodim Bangli Pasang Tempat Cuci Tangan di Lokasi Strategis

Dia mengingatkan, kampus-kampus konvensional yang saat ini tegak berdiri megah juga akan mengalami nasib yang sama seperti hotel, dikendalikan oleh kampus online yang mengandalkan teknologi.

“Mereka cari mahasiswa, tinggal bagi hasil dengan kampus model lama,” tukasnya.

Di Amerika Serikat, Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) sudah melakukan inovasi pembelajaran jarak jauh. Para mahasiswa asing tidak perlu lagi datang ke Amerika.

“Saat ini 7 persen mahasiswa baru Harvard University tetap tinggal di negaranya, tidak perlu ke Amerika, begitu juga di MIT ada 10 persen mahasiswa baru tetap tinggal di negaranya,” kata Djatmiko.

BACA JUGA :  IT Adalah Keharusan, Bukan Lagi Sebuah Pilihan di Era New Normal

Masih terkait urusan “plesiran” tersebut, korban nyata kehadiran marketplace menggilas dunia kampus dirasakan oleh kampus-kampus pariwisata.

“Sekarang ini saja sedikitnya 48 Program Studi Usaha Perjalanan Wisata sudah tutup,” kata Djatmiko.

Dewasa ini manusia berada di era Revolusi Industri IV atau R.IV. Tapi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (26 Desember 2012 – 16 September 2020) menilai R.IV justru mendegradasi peran manusia dalam kemajuan teknologi. Karena itu Abe “menelurkan” konsep masyarakat baru yang dikenal dengan sebutan Society 5.0. Yakni sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human centered) dengan berbasis pada kemajuan teknologi (technology based). Lalu apa yang harus dilakukan perguruan tinggi di Indonesia menghadapi perubahan yang begitu cepat itu?

BACA JUGA :  Mendagri Tinjau Vaksinasi Masal di Ubud

“Dibutuhkan seorang ‘perusak’ sistem lama, kita butuh seorang CDO atau Chief Disruption Officer,” tegas Djatmiko.

Dia memberi ilustrasi begini. Di era Pandemi Covid-19 ini perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba mencari seorang CEO (Chief Executive Officer) yang andal untuk menjalankan bisnisnya, maka saatnya kampus membutuhkan seorang CDO, seorang rektor “perusak” kampus, yakni sosok yang mampu melakukan inovasi dan adaptasi dengan perubahan serta melabrak zona nyaman yang ada di kampus selama ini.

“Kampus harus segera membuat inovasi, ke depan dosen bukanlah segalanya karena mahasiswa bisa belajar di mana saja, kapan saja dengan berbagai sumber digital,” tegas Budi Djatmiko.

BACA JUGA :  Dana Nasabah Bank Mega Raib, Putu Armaya: Bank Harus Bertanggung Jawab!

Menurut dia, kata kuncinya terletak pada kemampuan dosen untuk membuat dan mengkolaborasikan empat poin ini.

“Pertama, literasi data, yaitu kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Kedua, literasi teknologi, yakni memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (cooding, artificial inteligence, machine learning, engineering principles, biotech). Ketiga, literasi manusia, yaitu humanities, komunikasi dan desain. Keempat adalah pembelajaran sepanjang hayat,” pungkas Budi Djatmiko. (igp/r)

Related Posts