November 2, 2026
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Lebih Sekadar Festival Musik, STHALA Ubud Village Jazz Festival Dihelat 7-8 Agustus 2026

LITERASIPOST. COM – Denpasar | STHALA Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 yang telah mendapat pengakuan luas, akan kembali hadir pada 7–8 Agustus 2026 di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel.

Memasuki penyelenggaraan ke-13, SUVJF memperkuat reputasinya sebagai salah satu festival jazz paling bergengsi di Asia Tenggara, mempertemukan musisi ternama dunia, talenta-talenta baru, serta pecinta musik dari berbagai negara. Dengan latar keindahan alam Ubud, festival ini menawarkan suasana yang lebih intim, dimana penonton dapat menikmati musik berkualitas tinggi, pertukaran budaya yang bermakna, serta kolaborasi artistik yang tak terlupakan.

BACA JUGA :  Ekonomi Bali Tumbuh, Sektor Potensial dan Digitalisasi Diperkuat

SUVJF 2026 menghadirkan jajaran musisi yang mewakili jazz kontemporer, straight-ahead jazz, tradisi big band, pengaruh world music, hingga kolaborasi lintas budaya yang inovatif.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan empat suara musik yang berbeda dari Thailand, Indonesia, dan Amerika Serikat dalam sebuah proyek jazz kontemporer yang berpusat pada komposisi pemain saksofon sopran Joe Rosenberg. Berakar pada improvisasi kolektif dan interaksi ensambel yang peka, musik mereka berkembang sebagai narasi berkelanjutan dimana melodi, ritme, tekstur, dan keheningan memiliki peran yang sama penting. Proyek ini turut melibatkan Indra Gupta (bass) dan Michael Ananda (gitar).

Koko Harsoe, gitaris ternama Indonesia, akan tampil bersama SAN Trio, trio jazz fusion asal Bali yang terdiri dari Savio (piano), Amos (kontrabas), dan Nara (drum). Dengan latar belakang musik yang beragam, mereka mengeksplorasi jazz modern melalui improvisasi, interaksi, dan ekspresi orisinal.

Dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak, kuartet internasional ini mempertemukan pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors dalam proyek jazz kontemporer yang kaya akan komposisi liris, harmoni yang mendalam, dan improvisasi kolektif. Proyek ini didukung oleh Erasmus Huis Jakarta.

H ZETTRIO menghadirkan warna unik dalam musik instrumental Jepang kontemporer. Dikenal melalui ciri khas hidung berwarna mereka—biru untuk H ZETT M (piano), merah untuk H ZETT NIRE (bass), dan perak untuk H ZETT KOU (drum)—trio ini terkenal dengan dialog musikal yang enerjik, permainan piano yang memukau, groove yang kuat, serta presisi ritmis yang tinggi.

Watchdog dari Prancis menampilkan Anne Quillier pada berbagai instrumen keyboard dan Pierre Horckmans pada klarinet. Musik mereka memadukan komposisi dan improvisasi dengan perhatian besar pada tekstur dan lanskap suara. Penampilan ini didukung oleh AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

BACA JUGA :  Update Vulkanik Lewotobi Laki-laki: Hari ini, Operasional Bandara Ngurah Rai Normal

Simone Prattico Java Collective mempertemukan drummer dan komposer Italia Simone Prattico dengan musisi jazz Indonesia Sri Hanuraga (piano) dan Kevin Yosua (bass). Musik mereka menggabungkan pengaruh Mediterania, nuansa Jawa, dan improvisasi jazz kontemporer dalam format trio yang dinamis.

Straight and Stretch Quartet, yang dipimpin oleh Yuri Mahatma (gitar) dan Astrid Sulaiman (piano), menghadirkan interpretasi unik jazz dalam spektrum yang luas. Dikenal melalui penampilannya di berbagai festival besar di Indonesia, Eropa, dan Australia, kuartet ini memadukan kecanggihan jazz dengan semangat keterbukaan. Pada kesempatan ini mereka akan berkolaborasi dengan trombonis Jepang Masahiko Kitahara, vokalis jazz Indonesia Dian Pratiwi, serta penyanyi dan penulis lagu asal Singapura Glen Wee yang akan membawakan karya-karya dari album debutnya Sounds in the City yang dirilis oleh Warner Music Singapore.

Salamander Big Band, salah satu orkestra jazz independen terlama di Indonesia, merayakan hampir dua dekade perjalanan musiknya melalui formasi sekitar 27 musisi yang membawakan repertoar swing klasik, karya big band kontemporer, serta aransemen orisinal.

Strings Corner Project menawarkan dialog musikal yang memadukan ekspresi flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara. Dipimpin oleh gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy, kelompok ini menghadirkan pertunjukan yang kaya akan interaksi melodi dan eksplorasi ritmis.

Dengan suara yang hangat dan ekspresif, Dattie Do memadukan tradisi jazz dengan karya-karya personal yang sarat cerita. Bersama gitaris Hoang Tung dari Hanoi, Vietnam, serta musisi Indonesia Warman Sanjaya dan Sinuksma, mereka menghadirkan kolaborasi lintas budaya yang dibentuk oleh improvisasi, ritme, dan dialog musikal.

Imelda Rosalin, vokalis, pianis, dan penulis lagu jazz Indonesia asal Jawa Barat yang dikenal melalui musikalitasnya yang matang serta akar yang kuat dalam musik klasik dan jazz, akan tampil bersama kuintetnya.

Legenda jazz Bali Dodot akan membawakan karya-karya orisinalnya bersama Wisnu Priambodo (drum) dan Helmy Agustrian (bass).

BACA JUGA :  The Nusa Dua Sambut Wisatawan Nikmati Momen Nyepi

Festival ini juga menghadirkan talenta-talenta baru dalam skena jazz Bali seperti LaDju dan Michael Ananda Trio.

Sebagai bagian dari komitmen UVJF dalam mendukung regenerasi musisi jazz Indonesia melalui semangat preservation of Jazzistry, tahun ini festival juga menampilkan Rason Trio serta JZ.KA Trio, yang menampilkan para musisi muda berbakat Indonesia.

Lebih dari Sekadar Festival Musik

Selain pertunjukan musik, UVJF 2026 terus berkomitmen mendukung pertukaran artistik, dialog budaya, dan perkembangan jazz di Indonesia maupun kawasan regional. Festival ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi dan penonton untuk terhubung melalui apresiasi bersama terhadap kreativitas, keberagaman, dan bahasa universal musik.

“Sthala Ubud konsisten mendukung UVJF, karena spirit kami di Marriott, khususnya di Sthala Ubud, bahwa hospitality bukan hanya soal menyediakan akomodasi, tetapi juga berarti membangun kolaborasi dengan komunitas lokal, merayakan keberagaman budaya, serta mendukung produk-produk UMKM dan berbagai inisiatif kreatif di sekitar kami. Nilai-nilai itulah yang kami temukan di UVJF. Festival ini bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi sebuah ruang pertemuan bagi musisi jazz dan pecinta jazz bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari banyak negara lain. Karena itu, kami merasa memiliki semangat yang sama dan ingin terus menjadi bagian dari perjalanan festival ini. Selama empat tahun kami menjadi salah satu hotel pendukung sekaligus host bagi UVJF, tingkat hunian kami selalu penuh. Tahun ini pun demikian. Untuk periode 1–2 Agustus, okupansi kami sudah mencapai 100 persen. Untuk kesiapan, kami melakukan beberapa pembaruan, baik dari sisi fasilitas maupun pengalaman bagi para tamu. Salah satunya adalah penyegaran menu makanan dengan lebih mengeksplorasi cita rasa lokal. Kami menghadirkan menu rendang autentik dengan mendatangkan chef langsung dari Padang. Selain itu, kami menghadirkan program happy hour di seluruh outlet restoran, serta membuka ruang baru di lantai delapan”, ungkap Lasta Arimbawa selaku GM Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali by Marriott International saat konferensi pers di Denpasar, Kamis (30/7).

“Karena itu, saya merasa kita semua—para pecinta jazz, musisi, penyelenggara festival, hingga seluruh ekosistem jazz—memiliki tanggung jawab untuk memastikan regenerasi ini terus berjalan. Mereka membutuhkan panggung. Mereka membutuhkan kesempatan. Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan panggung dengan standar internasional agar bisa bertumbuh dan berinteraksi dengan musisi dari berbagai negara. Kalau bukan kita yang memperkenalkan dan mempromosikan musisi-musisi Indonesia kepada dunia, lalu siapa lagi?”. Yang menarik, saya melihat banyak negara memiliki komitmen yang sangat kuat dalam mendukung para musisinya. Dukungan itu tidak hanya diberikan kepada nama-nama besar, tetapi juga kepada musisi muda yang mungkin belum begitu dikenal. Selama mereka memiliki kualitas dan portofolio yang baik, pemerintah maupun lembaga kebudayaan di negara mereka bersedia membantu agar mereka bisa tampil di berbagai festival internasional”, ucap Yuri Mahatma, Co-founder UVJF.

BACA JUGA :  Sekitar 10 Persen Penduduk Bali jadi Investor Pasar Modal, BEI Gencarkan Literasi

“Banyak musisi internasional dapat hadir karena memperoleh dukungan dari pemerintah dan lembaga kebudayaan di negara masing-masing. Mereka percaya pada kualitas festival ini. Mereka percaya pada komitmen kami untuk menjaga Ubud Village Jazz Festival sebagai sebuah festival jazz yang benar-benar berakar pada musik jazz itu sendiri. Kepercayaan seperti itu adalah tanggung jawab besar yang harus terus kami jaga. Memang, festival ini mungkin tidak sebesar festival-festival lain di Indonesia. Kami memilih tetap menjadi festival yang intim, dekat dengan penonton, dan menjaga kualitas pengalaman yang kami tawarkan. Tetapi justru di situlah identitas kami. Dan identitas itu akan terus kami pertahankan. Selama masih ada musisi yang ingin berkarya, penonton yang datang dengan antusias, media yang terus mendukung, para mitra yang percaya, dan komunitas yang berjalan bersama, kami akan terus berusaha menjaga festival ini agar tetap hidup. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan Ubud Village Jazz Festival”, sebut Anom Darsana, Co-founder UVJF.

“Ini adalah kedua kalinya saya tampil di festival ini. Harus saya katakan bahwa pengalaman pertama saya di sini menjadi sesuatu yang sangat berarti, terutama dari sisi artistik. Saya benar-benar merasakan atmosfer festival ini, dan bagi saya ada sesuatu yang sangat penting secara artistik yang terjadi di sini. Selain itu, saya juga berkesempatan bertemu banyak teman baru dan menjalin persahabatan. Lebih dari itu, saya menyadari bahwa Bali dan Indonesia memiliki begitu banyak talenta musik dan seni yang luar biasa. Itulah alasan mengapa saya benar-benar ingin kembali ke sini”, ungkap Simone Prattico dari imone Prattico Java Collective.

“Satu kehormatan bagi kami bisa tampil untuk ketiga kalinya di Ubud Village Jazz Festival. Yang pertama itu tahun 2016, kemudian tahun 2021 pas masa pandemi. Kami rombongan 30 orang lebih. Tidak mudah untuk mendatangkan mereka ke sini, dan itu selalu menjadi kerinduan bagi kami untuk tampil pada event yang sangat besar ini. Meskipun kami sudah pernah tampil di Java Jazz, tapi Ubud Village Jazz Festival itu yang masih paling murni menampilkan musisi-musisi jazz. Jadi kami berusaha mati-matian untuk bisa hadir di sini. Kebetulan meskipun mereka di Bandung, saya sudah pindah ke Bali, dan ini akan menjadi sepertinya konser terakhir saya dengan mereka, Harapannya bahwa festival ini akan terus lebih berkali lipat dari sekitar 13 tahun. Tentunya harus dapat support dari kita semua, untuk bisa menebar gaung bahwa Ubud Jazz ini salah satu event jazz festival yang paling bergengsi dan paling tepat, paling baik”, ujar Devy Ferdianto dari Salamander Big Band.

“Walaupun lokasinya masih di area yang sama, tahun ini merupakan tahun keempat kami menggarap venue di Sthala, tetapi pengalaman ruangnya akan berbeda. Jalur masuk dan keluarnya kami ubah, alur pengunjung kami susun ulang, sehingga tetap ada pengalaman baru setiap tahunnya. Tahun ini kami menghadirkan beberapa kolaborasi baru yang menarik, berbagai pekerja kreatif dan komunitas seni. Kolaborasi yang paling menarik, pertama kalinya kami mencoba menghadirkan energi terbarukan ke dalam festival. Akan ada salah satu area yang menggunakan tenaga surya, dan kami juga menyediakan charging station bagi pengunjung untuk mengisi daya gawai menggunakan energi matahari. Venue tahun ini tidak hanya menjadi tempat orang menikmati musik, tetapi juga ruang untuk mengalami seni, desain, keberlanjutan, dan berbagai bentuk kreativitas yang saling bertemu. Alur venue tahun ini, sebenarnya kami membaginya menjadi tiga kawasan utama. Semua itu kami rangkum dalam tema besar, yaitu Island Life. Bali adalah sebuah pulau. Namun, kami tidak ingin hanya menampilkan romantisme tentang indahnya kehidupan di sebuah pulau. Kami juga ingin berbicara mengenai realitas yang sedang dihadapi Bali hari ini. Karena itu, di beberapa titik akan menemukan karya-karya instalasi yang mengangkat isu lingkungan, termasuk persoalan sampah dan berbagai tantangan ekologis yang sedang kita hadapi bersama”, jelas Diana Surya, UVJF Committee. (L’Post)

Related Posts