May 13, 2021
GAYA HIDUP & TEKNOLOGI

Luncurkan Buku “Tato Perempuan Bali”, Dewi Pradewi Ingin Ubah Stigma Masyarakat

LiterasiPost.com, Denpasar –
Dewi Pradewi menutup Bulan Kartini 2021 dengan meluncurkan buku tentang perempuan yang berjudul “Tato Perempuan Bali” bertempat di The Magendra, Denpasar, Jumat (30/4/2021). Buku setebal 152 halaman tersebut diawali dengan kata pengantar yang ditulis oleh aktivis perempuan Bali, Ni Luh Djelantik.

“Ini merupakan karya tulis perdana saya dalam bentuk buku, yang saya ambil dari penelitian S2 saya di Program Studi Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana tahun 2019 dan meraih predikat Cumlaude, dengan judul tesis ‘Konstruksi Stigma pada Perempuan Bali Bertato di Kota Denpasar’,” ujar Dewi Pradewi saat acara Launching yang dipandu wartawan senior Made Adnyana.

BACA JUGA :  Akhir Tahun, Level 21 Mall Beri Kehebohan "Super Sale Up to 80%"

Dikatakan, pembuatan buku ini sebagai upaya atau langkah kecil gerakan emansipatoris untuk kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Karena, dari hasil penelitiannya bahwa tato itu menjadi masalah ketika digunakan oleh perempuan. Fenomena perempuan Bali bertato dalam wacana sosial, kultur dan moral selalu menyajikan sisi menarik yang mungkin luput dari perhatian khalayak.

Sambungnya, tato sebagai seni dekorasi tubuh ternyata masih menyisakan berbagai persoalan bagi perempuan Bali di tengah budaya patriarki yang keras. Maka, di dalam buku ini diungkap bagaimana tubuh, stigma, dan perlawanan tersebut bergulat erat dalam warna-warni Tato Perempuan Bali.

BACA JUGA :  Panglima TNI dan Kapolri Dukung Sanur Jadi Zona Hijau Covid-19

“Kita tidak membicarakan salah benar dalam buku ini tapi jalan tengah untuk berjalan beriringan tanpa melukai hati siapapun di dalamnya. Karena semua orang punya jalan dan cara masing-masing untuk menjadi cantik atau tampan. Ada yang memilih cara untuk cantik dengan pergi ke salon dan saya (perempuan bertato) memilih tampil cantik dengan menggunakan tato. Orang tidak salah berprasangka buruk karena tiap orang memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda untuk menanggapi segala sesuatunya,” jelas pelantun Bungan Tresna ini.

Kenapa Harus Membaca Buku Ini?

Perempuan bernama lengkap Putu Dewi Ariantini, SE, M.Si ini memaparkan bahwa banyak cerita di dalamnya sebagai penerima stigma (terstigma) dan penstigma (pemberi stigma). Bagaimana bentuk stigmanya sendiri di masyarakat, makna hingga perlawanan yang dilakukan oleh yang terstigma. Urgensinya adalah implikasi psikis yang dialami oleh terstigma dimana ia adalah sebagai pelaku budaya yang terpinggirkan dari budaya dominan.

Made Adnyana (moderator/kiri), Dewi Pradewi dan Dr. Nanang Sutrisno. (Foto: igp)

“Setelah membaca buku ini diharapkan bisa membuka mata masyarakat bahwa tidak semua perempuan bertato itu seperti yang mereka pikirkan (terstigma/negatif). Perempuan bertato harus mampu menunjukkan kelebihannya, semangat yang lebih dari yang lain. Perempuan bertato itu sudah punya modal, yaitu keberanian untuk melawan stigma masyarakat,” sebut Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si selaku penyunting buku ini.

Sebagai kelanjutan buku ini agar lebih diterima masyarakat, Dewi Pradewi dibantu rekannya Puja Astawa, Jun Bintang, Ajik Krisna dan tim Haibanana membuat project film yang diambil dari gambaran besar buku ini, dengan judul film “Dua Sisi”. Film berdurasi sekitar satu jam tersebut akan diputar pada Jumat (7/5/2021) pukul 16.00 WITA di Mini Theater Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar.

BACA JUGA :  Usung "Tanpa Batas", Kembali Innovation Hub Dukung Ekonomi Digital di Bali

“Kami mengundang rekan media untuk hadir hingga masyarakat Bali yang tentunya ingin lebih tahu isi bukunya secara visual lewat film yang disutradarai dan diproduseri oleh Puja Astawa tersebut,” pungkas Dewi Pradewi yang selain sebagai penyanyi, kini mulai menekuni dunia akting. (igp)

Related Posts