May 9, 2021
EKONOMI & PERBANKAN

TPID Tabanan Bersinergi Wujudkan Pertanian Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

LiterasiPost.com, Tabanan –
High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Tabanan berlangsung di ruang rapat PT BPD Bali Cabang Tabanan, Kamis (22/4/2021).

Rapat dipimpin oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya selaku Ketua TPID Kabupaten Tabanan, yang dihadiri Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan, Ketua DPRD Tabanan, I Made Dirga, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, serta diikuti oleh anggota TPID Kabupaten Tabanan.

BACA JUGA :  Optimis Ekonomi Bali Tumbuh Positif Tahun Ini, BI Rekomendasikan Lima Langkah Strategis

Dalam arahannya Bupati Sanjaya menegaskan kembali visi Pemkab Tabanan ke depan, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, Madani (AUM). Demi mewujudkan visi tersebut, sektor pertanian sebagai salah satu tumpuan perekonomian Kabupaten Tabanan akan didorong untuk berdaya saing.

Untuk itu, Bupati Sanjaya memberikan tiga arahan yang akan menjadi langkah strategis di sektor pertanian. Pertama, diversifikasi tanaman pangan. Kabupaten Tabanan merupakan lumbung pangan penghasil beras terbesar di Provinsi Bali. Ke depan, Kabupaten Tabanan akan mulai mengembangkan komoditas-komoditas pertanian bernilai ekonomis tinggi.

BACA JUGA :  Pasca Bom Bunuh Diri, Polri Amankan 5 Bom Aktif dan Tangkap 13 Terduga Teroris

“Kedua, program bangga menjadi petani. Tenaga kerja yang terkena imbas penurunan aktivitas ekonomi di sektor pariwisata akan diarahkan untuk menjadi petani dan ikut mengolah lahan sawah yang masih potensial. Ketiga, larangan alih fungsi lahan pertanian untuk menjamin keberlanjutan hasil produksi pertanian Kabupaten Tabanan,” ungkap Bupati Sanjaya.

Di sisi lain, pihaknya juga meminta seluruh pimpinan OPD untuk fokus pada kebijakan pengendalian harga dengan menerapkan strategi 7K, yakni KEKAR (Ketersediaan Komoditi Pasar), KATA HATI (Kestabilan Harga Komoditi), KECAPRI (Kelancaran Distribusi), KOMET (Komunikasi Efektif), KLASTER (Kolaborasi Sinergitas dan Terintegrasi), KUDATULI (Keakuratan Data Hulu dan Hilir), dan KITAB (Keunggulan Inovasi Tabanan Era Baru).

BACA JUGA :  Bupati Suwirta: Perlu Kerja Sama Semua Pihak Tekan Inflasi

Bertindak sebagai narasumber dalam rapat tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho sepakat dengan arah program pengembangan ekonomi Kabupaten Tabanan ke depan. Sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, perekonomian Kabupaten Tabanan konsisten tumbuh di atas 5 persen setiap tahun. Namun pada tahun 2020, Kabupaten Tabanan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar -6,14 persen (yoy).

“Ditinjau dari kontribusi lapangan usaha, Produksi Domestik Regional Bruto Kabupaten Tabanan didominasi oleh sektor pertanian (23,03 persen) dan pariwisata (17,16 persen). Kedua sektor itu juga mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu, masing-masing sebesar -1,20 persen dan -24,84 persen,” papar Trisno.

BACA JUGA :  OJK Bali-Nusra Beri Edukasi dan Bansos Untuk Pelajar di Bangli

Mempertimbangkan struktur perekonomian Kabupaten Tabanan tersebut, Bank Indonesia merekomendasikan agar sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dengan tiga strategi, yakni (1) petani milenial Bali untuk mengakselerasi modernisasi di sektor pertanian, (2) digitalisasi pertanian di sektor hulu dan hilir untuk meningkatkan produktivitas dan hasil penjualan, serta (3) hilirisasi komoditas pertanian untuk meningkatkan nilai tambah produk dan penyerapan tenaga kerja.

“Untuk mendukung ketiga strategi tersebut agar berjalan efektif, dibutuhkan dukungan regulasi, anggaran, kemudahan berinvestasi, pembiayaan perbankan, serta penguatan kelembagaan dan pemasaran,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Taat Aturan, PT Dirgahayu Valuta Prima Raih Penghargaan KPwBI Bali

Berdasarkan data neraca pangan, Kabupaten Tabanan mengalami defisit (jumlah kebutuhan lebih besar dari produksi) pada tiga komoditas, yakni bawang merah, bawang putih dan cabai besar.

“Guna mengatasi permasalahan tersebut, kami mendorong terbentuknya BUMD pangan untuk meningkatkan serapan hasil produksi pertanian, serta kerja sama antar daerah dengan daerah lain, baik intra provinsi maupun antar provinsi yang mengalami surplus pada ketiga komoditas tersebut,” pungkas Trisno. (igp/r)

Related Posts