January 24, 2022
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Tradisi Ngrebong Desa Adat Kesiman

LITERASIPOST.COM, DENPASAR | Desa Adat Kesiman, Kota Denpasar, menggelar Ritual/Tradisi Ngrebong di Pura Agung Petilan Pangrebongan bertepatan dengan Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (28/11/2021).

Tradisi rutin setiap enam bulan (210 hari) sekali (atau 8 hari setelah Hari Suci Kuningan) ini dihadiri langsung Gubernur Bali Wayan Koster. Tampak mendampingi Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Wayan Warka, Panglingsir Puri Kesiman, AA Ngurah Gede Kusuma Wardana, serta prajuru Desa Adat Kesiman dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

BACA JUGA :  Rayakan Hari Kebangkitan Nasional, SGB Bali Gelorakan Semangat Tumbuh Besar Bersama Nasabah

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna menjelaskan konsep Pangrebongan ini adalah dari kata “Ngerebu” yang berarti suatu pesta oleh raja kepada rakyatnya dengan tatanan yang ada di Desa Kesiman, dengan Tata Dewa-nya melaksanakan Tata Keraton. Artinya, Sang Pencipta dipersonifikasikan seperti tatanan keraton, ada raja, patih, dan seterusnya.

“Ini membaur dalam satu rangkaian kegiatan dan ada Napak Pertiwi penyatuan dari unsur pertiwi dan akasa dengan Ngereh Lemah, dengan Ngiterin Bhuana di wantilan Pura Agung Petilan sebagai porosnya,” ucapnya.

“Dari luar Desa Adat Kesiman ada dari Pemogan, Sawangan, Sanur, Bekul, dan beberapa desa lagi, itu waktu persembahyangannya menyesuaikan,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Rayakan HUT ke-5, Okupansi Fame Hotel Sunset Road Mulai Bergeliat

Wisna menjelaskan, ritual Pangrebongan ini adalah warisan budaya tak benda yang telah diakui dan terdaftar oleh negara, melalui keputusan Mendikbud tanggal 10 Oktober 2018.

Bendesa Ketut Wisna juga mengatakan ritual yang berlangsung sehari ini diikuti oleh 31 banjar di wilayah Desa Adat Kesiman serta pelawatan Ida Bhatara dari beberapa Pura di luar wilayah Kesiman yang memiliki keterkaitan dengan Kesiman, antara lain Sanur, Bukit Jimbaran, Pemogan, Bekul, dan Tohpati.

Dalam prosesi Ngrebong, dimulai dengan mengitari wantilan Pura Agung Petilan (Maider Bhuwana) sebanyak 3 kali. Saat mengitari wantilan inilah kerauhan masal terjadi. Hingga beberapa pamedek yang mengalami kerauhan akan menusukan sebilah keris ke bagian tubuhnya yang dikenal dengan istilah Ngurek.

BACA JUGA :  ITDC Selesaikan Vaksinasi Dosis Kedua Bagi Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif The Nusa Dua

Sementara itu Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa berharap pelaksanaan Tradisi Ngerebong di Desa Adat Kesiman Kota Denpasar ini dapat menyeimbangkan alam semesta beserta isinya. Hal ini juga diharapkan dapat terus meningkatkan sradha dan bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa

“Pelaksanaan Yadnya ini tentu sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Diharapkan upacara Yadnya Ngerebong ini dapat memberikan energi Dharma yang dapat memancarkan hal positif bagi jagat Bali serta menetralisir hal- hal negatif melihat berbagai macam situasi yang terjadi dewasa ini demi terciptanya keseimbangan jagat beserta isinya,” ujarnya. (igp/r)

Related Posts