July 27, 2021
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Desa Adat Baha Laksanakan Ngaben Masal Terapkan Prokes

LiterasiPost.com, Badung –
Desa Adat Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung melaksanakan upacara Nyegara Gunung di Pantai Goa Lawah, Kabupaten Klungkung, Senin (22/3/2021), serangkaian puncak upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dan Manusa Yadnya (Metatah) masal yang rutin dilaksanakan lima tahun sekali. Di masa  pandemi ini pihak panitia karya menerapkan prokes Covid-19 dengan ketat.

Ketua Panitia Ngaben masal, Made Ngasta mengatakan, pelaksanaan Ngaben, Metatah dan Mepetik kali ini diikuti dari 6 banjar adat, yakni Banjar Bedil, Banjar Gegaran, Banjar Kedua, Banjar Pengabetan, Banjar Busana Kaja dan Banjar Busana Kelod, yang dilaksanakan  di Wantilan Desa Baha dengan jumlah peserta sebanyak 81 sawa, 15 sawa Ngelungah, 24 orang Potong Gigi dan 5 orang Mepetik.

BACA JUGA :  Bali Safari Park dan Mara River Safari Lodge Raih Sertifikat CHSE dari Kemenparekraf

Upacara Ngaben yang dirangkaikan dengan Ngelungah, Potong Gigi dan Mepetik dilaksanakan dengan sistem iuran secara gotong royong.

“Yadnya pengabenan ini adalah bentuk dari kewajiban masing-masing warga, namun karena terbentur pendanaan, maka Desa Adat Baha merancang kegiatan Ngaben masal ini bertujuan meringankan biaya serta mengeratkan gotong royong dan menyama braya,” kata Ngasta.

Ditambahkannya, sebelum melakukan prosesi Ngaben masal, didahului prosesi Ngerapuh atau Ngelungah. Upacara ini diikuti oleh para ibu yang pernah memiliki bayi dan meninggal saat dalam kandungan.

BACA JUGA :  Antisipasi Aksi Terorisme, Polda Bali Gelar Apel Siaga Operasional Power Of Hands Kapolda Bali

Pihaknya juga menjelaskan, upacara ini bertujuan untuk mengantar roh yang masih suci dengan langsung menghanyutkan Puspa Lingga yang juga biasa disebut Meajar-ajar di Pantai Goa Lawah. Dengan harapan agar roh dari para kerabat yang diikutkan dalam Ngaben masal ini kembali bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.

Made Ngasta selaku Ketua Panita sekaligus Bendesa Desa Adat Baha, sangat ketat mengatur pelaksanaan puncak karya, dimana hanya meperbolehkan dua orang saja per sawa dari awal kegiatan hingga upacara Nyegara Gunung. Selain pembatasan juga disediakan berbagai fasilitas pencegahan Covid-19, seperti handsanitizer dan tempat cuci tangan. (igp/r)

Related Posts