April 20, 2024
PENDIDIKAN

Prof. Simon: Undana Siap Menuju World Class University

LiterasiPost.com, Denpasar | Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D akan mengakhiri masa tugasnya pada 5 Desember 2021 mendatang, setelah dua periode memimpin perguruan tinggi negeri pertama di NTT ini. Salah seorang calon yang sudah mendaftarkan diri untuk bertarung dalam suksesi Undana kali ini adalah Prof. Dr. Simon Sabon Ola, S.Pd, M.Hum.

Sebagai teman lama di Bali ketika Prof. Simon menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 Universitas Udayana, saya mengontaknya pada Jumat (6/8/2021) sore untuk mengobrol santai tetapi bermakna tentang kiprah Undana terkait isu-isu terbaru. Berikut petikan wawancara Rahman Sabon Nama (RSN) di Denpasar.

BACA JUGA :  Sharing Session Bekali Pejuang IISMA UNUD, Upaya Tingkatkan Jumlah Awardee 2024

RSN: Akhir Juli 2021 lalu, Webometrics, sebuah lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dunia yang berkedudukan di Spanyol, merilis hasil penilaiannya terhadap website sekitar 300.000 perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh dunia. Indikator yang digunakan adalah transparansi dengan bobot 50 persen, impact 10 persen dan keunggulan 40 persen. Hasilnya, dari 4.593 perguruan tinggi di Indonesia, Undana menempati ranking 147 nasional dan ranking 6.679 dunia. Bahkan di Bali dan Nusa Tenggara saja, Undana berada pada posisi ke-8. Bagaimana komentar Anda?

Prof. Simon: Pemeringkatan itu dilakukan oleh lembaga yang kredibel dengan berbagai parameter utama. Pemeringkatan merupakan instrumen sekaligus mekanisme kontrol eksternal yang dijadikan bahan introspeksi bagi perguruan tinggi. Webometrics menggunakan indikator transparansi, yang sudah tentu dengan “melacak” konten website/laman tentang keseluruhan proses penyelenggaraan perguruan tinggi. Indikator Impact bukanlah item yang berdiri sendiri. Indikator ini merupakan satu kesatuan dengan transparansi dan keunggulan. Sementara keunggulan (excellence) secara sederhana diartikan sebagai ‘nilai lebih’, kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang atau lembaga lain.

Terlepas dari lembaga yang kredibel seperti Webometrics ataupun THE (The Higher Education) Impact, misanya, perguruan tinggi harus menciptakan berbagai keunggulan untuk memperoleh peringkat baik di berbagai tataran lokal, nasional, regional dan global.

BACA JUGA :  Tim Asesor Lakukan Asesmen Lapangan pada Prodi Magister Agribisnis UNUD

Undana menempati peringkat 147, artinya masih jauh dari harapan. Transparansi melalui laman bukan pada intensitas penyebarluasan informasi tentang seluruh aktivitas civitas akademika, tetapi terutama pada mutu aktivitas yang disebarluaskan itu; aktivitas yang unggul dan berdampak, yang akuntabel dan mendorong partisipasi publik. Undana harus segera berbenah.

RSN: Menurut Prof. Simon, sebagai satu-satunya universitas negeri dan menjadi kebanggaan masyarakat NTT, seperti apa implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sudah dilakukan oleh Undana?

Prof. Simon: Undana merupakan universitas negeri pertama di NTT. Sekarang ada Universitas Timor (Unimor) di Kefamenanu. Undana juga merupakan universitas tertua di NTT. Sebagai universitas tertua dan universitas negeri pertama mestinya tidak perlu diragukan mutu dan pengembangannya. Dana dari dua sumber yakni pemerintah (kementerian) dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Apalagi dengan sistem pengelolaan keuangan yang sudah berubah dari satuan kerja (Satker) ke Badan Layanan Umum (BLU). Fleksibilitas dalam mengelola sumber dana beserta pemanfaatannya harus berorientasi pada mengoptimalkan proses dan hasil dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di Undana.

BACA JUGA :  RSPTN UNUD Berhasil Lakukan Operasi Penggantian Sendi Panggul pada Fraktur Pangkal Tulang Paha

Undana sementara ini irit dalam soal penelitian dengan dana yang bersumber dari PNBP. Bagaimana mungkin bisa mengembangkan strategi dan isi (materi) pendidikan dan pengajaran berbasis hasil penelitian? Bagaimana pula dosen dan mahasiswa dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian. Padahal penelitian harus diperkuat dengan dukungan dana karena dari sanalah keunggulan bisa diciptakan dan dikembangkan secara terus-menerus. Indikator publikasi di jurnal dan sitasi (berapa kali tulisan publikasi dikutip atau dirujuk oleh penulis lain-red) tidak mungkin maju dan berkembang jika tidak ada penelitian dengan dana yang memadai. Publikasi bermutu dihasilkan dari penelitian bermutu, penelitian bermutu umumnya membutuhkan dana yang besar. Bahkan untuk mencapai paten yang dapat mendongkrak mutu yang berdampak bagi masyarakat membutuhkan dana yang besar pula.

RSN: Selama ini, tagline Undana adalah Pendidikan Tinggi Bermutu, Relevan dan Berdaya Saing, bertujuan sebagai perguruan tinggi yang berorientasi global dengan cara mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu, relevan dan berdaya saing. Menurut Prof. Simon realisasinya seperti apa?.

Prof. Simon: Undana memiliki banyak naskah kerja sama. Namun naskah-naskah itu lebih dokumenter daripada sejarah. Alasan klasik untuk menghasilkan kerja nyata dari naskah-naskah itu ialah dana. Bukankah naskah-naskah itu berpotensi mendatangkan dana yang bisa jadi berlipat ganda daripada dana yang dikeluarkan? Yah, ragu-ragu, takut rugi. Mengapa, naskah kerja sama dibuat tanpa analisis yang komprehensif sehingga naskah tetaplah naskah tanpa tindak lanjut? Sama kira-kira dengan tagline. Bermutu harus tercermin pada mutu dosen, mutu mahasiswa, dan mutu lulusan. Relevan berarti mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lokal, nasional, regional dan global. Berdaya saing artinya mampu melahirkan keunggulan-keunggulan, setidak-tidaknya menjadi perguruan tinggi favorit, yang kemudian biaya kuliahnya mahal tetapi tetap saja diminati.

BACA JUGA :  Pascasarjana UNUD Hadiri Bimtek Perjanjian Kerja Sama Balai TNBB

RSN: Saat ini seluruh perguruan tinggi di Indonesia berlomba-lomba menata diri menuju World Class University. Bagiamana Undana mempersiapkan diri menuju ke sana?.

Prof. Simon: Harus ada mimpi. Pemimpinnya harus punya mimpi, dan didukung oleh kepemimpinan dan karakter yang kuat. Utamakan peningkatan mutu yang bisa menarik minat mahasiswa asing. Dari situ terjadi transfer pengetahuan dan keterampilan berbasis teknologi yang dibutuhkan pada tataran global. Alumni dari negara lain itu dapat menjadi jembatan untuk alumni anak Indonesia untuk memperoleh peluang bekerja di negara lain. Kembali ke laman Undana; sering trouble, dan kontennya tidak memiliki daya tarik, kurang artikulasi sehingga tidak diminati oleh calon mahasiswa dari luar negeri. Kerja sama dengan lembaga dan perusahaan asing perlu dirintis dengan mengembangkan program studi dan atau unit bisnis yang berskala global.

Untuk mencapai World Class University, sekarang waktunya untuk menciptakan manajemen yang berorientasi mutu. Menteri mendorong kebijakan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Jangan takut mengirimkan mahasiswa Undana untuk memprogramkan mata kuliah tertentu di luar kampus di luar negeri. Mimpi untuk menjadi World Class University adalah sebuah keniscayaan.

BACA JUGA :  KUI UNUD Gelar Seminar Kuliah di Luar Negeri, Buka Peluang Kuliah S2 di Universitas Pertama di Australia

Lalu, Siapakah Prof. Simon?

Simon Sabon Ola lahir di Desa Lamawolo, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Asonara, Flores Timur, 22 Maret 1965, anak ke-6 dari Lukas Payong Dore (alm) dan Maria Letek Sabon (almh). Menikah dengan Filomena Wilhelmina Abuk Berek, S.Pd. (alm). Anak-anak: dr. Romario Vianney Wewang Geroda Langowuyo, S.Ked., Thomas Ardian Payong Dore Langowuyo, dan Aurelia Agustina Uba Beren Langowuyo. Menikah lagi dengan dengan Dr. Lanny Isabela Dwisyahri Koroh, S.Pd., M.Hum.

Tamat SDK Lamawolo tahun 1976, SMP PGRI Gelekat Lewo tahun 1981, SPG Suryamandala-Waiwerang tahun 1984. Kuliah program sarjana pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana, tamat tahun 1990; S2 Linguistik di PPS Universitas Udayana Bali, tamat tahun 1997; kemudian Program Doktor Linguistik Universitas Udayana, tamat tahun 2005 dengan disertasi berjudul “Tuturan Ritual dalam Konteks Perubahan Budaya pada Kelompok Etnik Lamaholot di Pulau Adonara, Flores Timur”.

BACA JUGA :  Giatkan Internasionalisasi, F-PAR UNUD Gelar Lokakarya Kurikulum

Sejak tahun 1989 mengajar di berbagai SMP, SMA, dan SMK di Kota Kupang. Tahun 1992 diangkat sebagai dosen di FKIP Undana. Sejak tahun 1997 mengajar disejumlah perguruan tinggi, antara lain Unwira Kupang, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas PGRI NTT. Pernah menjadi dosen tamu di Universitas Flores, Ende (2010—2011), Universitas Warmadewa Bali (2016—2017), dan Institut Keguruan dan Teknologi (IKTL) Larantuka. Tahun 2011 dikukuhkan dalam jabatan fungsional Guru Besar bidang Sosiolinguistik dengan pangkat/golongan terakhir Pembina Utama Madya, IV/d. Pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Undana (2014—2018).

Tidak kurang dari 40 artikel ilmiah telah dihasilkan dan dipublikasikan diberbagai jurnal, baik lokal nasional (terakreditasi), maupun internasional, di samping puluhan makalah yang telah dipresentasikan dalam berbagai pertemuan ilmiah nasional dan internasional bidang linguistik dan bidang budaya. Kini aktif melakukan penelitian budaya dan linguistik lintas-bidang. Buku yang dihasilkan: Sosiolinguistik, dan Linguistik Historis Komparatif (bersama Fredy Maunareng). (igp/r)

Related Posts