March 1, 2024
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Tolak Impor Beras dan Garam, Puspa Negara Sepaham dengan Gubernur Bali

LITERASIPOST.COM, LEGIAN | Sebagaimana pidato Gubernur Bali dalam Musrenbangnas pada 22 Mei 2023 di BNDCC, Nusa Dua, dengan pertimbangan Bali harus berdaulat dalam urusan pangan. Dimana menurut gubernur, dalam konteks 20 tahun ke depan harus dipikirkan agar Indonesia bisa berdaulat di bidang pangan, bukan lagi ketahanan pangan. Indonesia diyakini mampu berdaulat di bidang pangan karena menjadi negara agraris. Maka tidak semestinya Indonesia mengimpor beras, garam hingga bawang putih.

“Setuju, gubernur menolak Bulog Bali mengimpor 10 ribu ton beras dari Vietnam karena Bali surplus beras. 20 tahun lagi pertanian akan menjadi primadona investasi,” ujar Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali (APPMB), I Wayan Puspa Negara.

BACA JUGA :  Didukung Menparekraf, Sport Tourism di Bali Terapkan Digitalisasi Berbasis QRIS

Lanjutnya, untuk itu semua peraturan yang ramah impor harus dirombak secara progresif, menyeluruh agar peraturannya pro rakyat. Peraturan yang ramah impor itu sangat menyulitkan untuk memberdayakan potensi ekonomi daerah. Menurut mantan Ketua LPM Kelurahan Legian ini, pertanian dibangun dengan serius di hulu tetapi di hilir justru mengimpor beras. Akibatnya, petani tidak mampu menikmati harga beras yang baik, karena beras lokal menjadi mahal serta tidak laku di pasaran.

“Kalau Bulog mau beli beras, belilah beras dari hasil petani kita di Bali, jangan beli beras dari negara luar, agar rakyat sejahtera, kalau kita membeli beras lokal maka perputaran ekonomi akan terjadi di dalam negeri, sehingga persoalan impor beras sudah waktunya untuk diakhiri,” jelas Puspa Negara.

“Saya sangat setuju, mendukung dan apresiasi atas pernyataan gubernur ini yg jelas terlihat membela kaum marginal dalam hal ini petani dan pertanian, terlebih dalam perspektif saya pribadi daerah kita adalah daerah pariwisata yang berbasis budaya dimana budaya Bali bersumber dari budaya pertanian, artinya pertanian adalah sektor dasar/fundamen yang harus tetap diperkuat secara berkelanjutan karena telah terbukti sektor pertanian di Bali adalah kekuatan dari budaya kita,” sambungnya.

BACA JUGA :  Tangani Permasalahan Pariwisata Bali, Satgas Siap Bekerja

Budaya agraris inilah yg membuat Bali unik dan menarik. Pertanian dalam arti luas memiliki peran esensial dalam kehidupan karena secara faktual mengandung 3 nilai strategis dan vital. Pertama, sebagai sumber/produksi/penghasil pangan. Kedua, sebagai pertahanan dan pelestarian lingkungan. Ketiga, sebagai sumber budaya dasar orang Bali.

Begitu esensialnya peran pertanian maka satu satunya jalan agar Indonesia khususnya Bali bisa berdaulat pangan, adalah menjaga lingkungan dan kelestarian budaya Bali. Sudah seharusnya memproteksi pertanian, menjaga dan mempertahankan eksistensinya dengan menjadikanya sebagai program prioritas atau unggulan dalam setiap tahapan pembangunan/program berbasis pro pertanian. Keberpihakan pada pertanian harus absolut, penuh good will (kemauan baik) demi pertahanan lingkungan dan ekosistem, keberlangsungan ketersediaan pangan serta pelestarian budaya.

“Jadi, jika pembangunan di-manage dengan tetap menjadikan pertanian sebagai sektor prioritas maka akan muncul inovasi, tatanan dan tatacara pertanian yang dikelola dengan manajemen modern. Anggaran yang ideal, Inovasi yang progresif revolusioner harus segera diarahkan pada sektor pertanian,” pungkasnya. (igp/r)

Related Posts