March 1, 2024
PARIWISATA & SENI BUDAYA

Verdy Saputra: Maksimalkan Work From Bali, UMKM Jadi Embrio Pemulihan Ekonomi

LiterasiPost.com, Denpasar –

Kondisi pariwisata yang tiarap akibat pandemi Covid-19 membuat semua aspek penopangnya harus mencari alternatif untuk bertahan hidup. Mulai dari jasa angkutan, hotel, pramuniaga, sales dan lain-lainnya. Pelaku pariwisata I Gede Putu Verdy Riana Saputra pun mengalami kondisi yang sama pada usahanya di Asia Wisata Archipelago, namun tidak membuatnya menyerah.

Ditemui dalam suasana santai di sebuah kafe di Denpasar baru-baru ini, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Bali secara umum. Kendati demikian, ia berusaha mematangkan potensi usaha sekitarnya yang bergerak dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta berusaha agar tetap bersinergi antar pelaku UMKM ini.

BACA JUGA :  Momentum Natal 2022, Kanwil Kemenkumham Bali Beri Remisi Ratusan WBP

“Harapan dibukanya pariwisata atau border internasional pada Juli ini sangat dinantikan oleh semua kalangan. Program dari pemerintah Work From Bali (WFB) bisa menjadi momen dimana seluruh lapisan masyarakat di Bali merasakan manfaatnya,” ungkap Verdy Saputra yang juga Ketua Sapma Pemuda Pancasila Kota Denpasar.

Untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat adanya program WFB, adalah dengan berpikir kreatif.

“Untuk memaksimalkan WFB adalah dengan membuat event, atau kreativitas lainnya yang menunjang kinerja program pemerintah tersebut. Hanya saran saya terhadap pelaku WFB, janganlah menggunakan mobil pribadi agar tercipta mutualisme yang baik dari program WFB tadi, “harapnya.

BACA JUGA :  Tiga Perupa Bali Gelar Pameran "Segi-Tiga"

“Saya berharap bila ini dilakukan akan berdampak langsung bagi masyarakat Bali baik bidang jasa, atraksi bahkan angkutan,” imbuhnya.

WFB tentu punya nilai positif bagi Bali. Tetapi bila WFB hanya terkonsentrasi di satu kawasan maka terkesan tidak adil bagi kawasan lain yang notabene sudah siap menerima tamu.

“Saya pikir WFB ini harus benar-benar dimatangkan, saya mendengar Nusa Dua adalah pilot projectnya,” lanjut Verdy.

BACA JUGA :  Winastra dan Tunggu Nakhodai DPD dan DEPETA ASITA Bali 2021-2026

Ia menambahkan jika program WFB berlanjut ke depan, maka daerah yang dituju harus memiliki kriteria zona hijau serta sertifikasi CHSE (Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Daerah yang belum mendapatkan “jatah” agar terus didorong untuk memiliki standar tersebut. 

Disinggung soal UMKM, ia menuturkan bahwa saat inilah Bali harus bangkit dari keterpurukan, berkolaborasi dengan wadah atau asosiasi yang dapat mengumpulkan bahkan sudah memiliki UMKM binaan, dan memanfaatkan program WFB ini sebagai ajang untuk menyatukan data base.

“Misal kita mengadakan pameran stan di Nusa Dua, dan ASN yang bekerja di sana kita bawakan produk-produk hasil UMKM ini, ini loh UMKMnya Bali! Jadi tidak usah ke mana-mana lagi untuk men-spend (membelanjakan) uangnya untuk masyarakat Bali,” tegasnya.

BACA JUGA :  Dukung Tukad Buleleng Jadi Wisata Tirta, PLN Gelontor Rp50 Juta

WFB juga menjadi momen bagi pelaku UMKM untuk memahami digitalisasi pembayaran.

“Jika kita membuat pameran UMKM untuk menyambut WFB itu, saya kira perbankan lokal dapat mengedukasi pelaku UMKM tentang transaksi digital atau payment gateway. Saya kira sinergi seperti inilah yang kita butuhkan, kita maksimalkan WFB ini dalam menggerakkan ekonomi Bali,” pungkasnya. (igp/r) 

Related Posts